Example floating
Berita

Pabrik AI Terbesar ASEAN di Batang, Ancaman Krisis Air hingga Bencana Ekologis Mengintai?

×

Pabrik AI Terbesar ASEAN di Batang, Ancaman Krisis Air hingga Bencana Ekologis Mengintai?

Sebarkan artikel ini

Faktual.Net, Batang, Jateng — Di balik gegap gempita rencana pembangunan pabrik kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence Factory terbesar di Asia Tenggara, muncul persoalan yang tak kalah penting dari nilai investasi dan kecanggihan teknologinya: seberapa siap lingkungan Kabupaten Batang menanggung kebutuhan infrastruktur komputerisasi berskala raksasa tersebut, Jumat (6/11/2026).

Proyek Zankore by Indosat, kolaborasi Indosat Ooredoo Hutchison, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA, diproyeksikan memiliki kapasitas hingga 1 gigawatt (GW), diawali pembangunan berkapasitas sekitar 200 megawatt (MW) pada 2027.

Pemerintah memandang proyek tersebut sebagai langkah strategis menjadikan Indonesia pusat pengembangan kecerdasan buatan di kawasan Asia Tenggara.

Namun, besarnya investasi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pembangunan. Ada persoalan air, kebutuhan energi, pengelolaan limbah, dan ketahanan infrastruktur lingkungan yang perlu mendapatkan jawaban terbuka sebelum proyek beroperasi.

Sebab, teknologi boleh semakin cerdas, tetapi jangan sampai masyarakat justru harus menanggung risiko lingkungan yang tidak pernah mereka perhitungkan.

285 Liter Air per Detik, Cukupkah untuk Industri dan Mesin AI?

Persoalan paling mendasar adalah kebutuhan air.

Pusat data AI membutuhkan sistem pengendalian suhu untuk menjaga ribuan perangkat komputasi berkinerja tinggi tetap beroperasi. Bergantung pada teknologi pendinginan yang digunakan, fasilitas semacam ini dapat membutuhkan air dalam jumlah besar.

Data Central Java Investment Platform milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat kapasitas pasokan air tahap pertama KEK Industropolis Batang sebesar 285 liter per detik.

Apabila mengalir terus-menerus selama 24 jam, angka tersebut setara sekitar 24,6 juta liter air per hari. Ini merupakan kapasitas pasokan air tahap pertama, bukan jumlah air yang tersedia khusus bagi proyek AI.

Dokumen yang sama mencantumkan kapasitas pengembangan tahap kedua hingga 1.072 liter per detik pada tahap akhir.

Pertanyaannya, berapa kebutuhan air tambahan ketika AI Factory mulai beroperasi pada kapasitas 200 MW dan kemudian meningkat menuju 1 GW?

Sebagai gambaran matematis, apabila kapasitas 1 GW seluruhnya diasumsikan sebagai beban perangkat komputasi yang beroperasi penuh selama 24 jam, dengan konsumsi pendinginan 1 liter per kilowatt-jam, kebutuhan air secara hipotetis mencapai 24 juta liter sehari.

Angka tersebut bukan proyeksi konsumsi Zankore. Kebutuhan sebenarnya dapat jauh lebih rendah, bergantung pada teknologi pendinginan, pemanfaatan air daur ulang, efisiensi, dan kapasitas komputasi yang benar-benar digunakan.

Justru karena ketidakpastian itulah publik memerlukan penjelasan teknis.

Berapa target Water Usage Effectiveness (WUE) proyek? Apakah air berasal dari reservoir kawasan, air permukaan, air tanah, atau sumber lainnya? Berapa kebutuhan pada musim kemarau, dan seberapa besar porsi yang dapat digunakan kembali?

Tanpa jawaban tersebut, klaim pembangunan berkelanjutan belum dapat diuji secara terbuka.

Batang Pernah Kekeringan, KITB Sendiri Pernah Menyalurkan Bantuan Air

Persoalan ketersediaan air bukan sekadar kekhawatiran abstrak.

Dalam publikasi resminya, PT Kawasan Industri Terpadu Batang pernah melaporkan penyaluran bantuan 75.000 liter air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan pada November 2023.

Bantuan tersebut diberikan melalui kerja sama dengan BPBD, PMI, dan PDAM, antara lain untuk warga Desa Candi dan Desa Pretek di Kabupaten Batang.

Peristiwa itu berkaitan dengan kemarau berkepanjangan, bukan akibat proyek AI.

Namun, catatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan ketahanan air memang pernah menjadi tantangan nyata bagi sebagian masyarakat Batang.

Kini muncul pertanyaan baru: apakah kebutuhan air sebuah infrastruktur digital berskala gigawatt telah diperhitungkan bersama kebutuhan masyarakat, pertanian, dan kegiatan industri lain, terutama dalam skenario musim kemarau panjang?

Pengambilan air tanah tanpa pengendalian yang tepat juga dapat menimbulkan risiko penurunan muka air tanah. Pada kawasan pesisir dengan kondisi hidrogeologi tertentu, tekanan berlebihan terhadap akuifer dapat meningkatkan risiko intrusi air asin.

Risiko tersebut memerlukan pembuktian melalui kajian hidrogeologi setempat, bukan sekadar asumsi bahwa semua lapisan air tanah aman digunakan.

Belum Selesai Soal Air, Bagaimana dengan Ancaman Banjir?

Aspek lain yang patut diperhatikan adalah ketahanan drainase.

Pada 30 Januari 2025, kawasan KITB mengalami persoalan serius akibat hujan ekstrem.

Melalui publikasi resminya, KITB menjelaskan adanya luapan air dari kolam retensi di Kavling B03 Plabuhan–Krengseng yang mengakibatkan kerusakan pada struktur saluran penghubung menuju gorong-gorong kereta api.

Tekanan aliran air menyebabkan erosi pada fondasi struktur, limpasan menuju jalur rel, dan robohnya talud sepanjang kurang lebih 50 meter.

Pengelola kawasan ketika itu melaksanakan mitigasi dan merencanakan penguatan infrastruktur.

Peristiwa tersebut tentu tidak membuktikan AI Factory akan menyebabkan banjir. Namun, riwayat itu relevan sebagai dasar evaluasi daya dukung drainase terhadap penambahan fasilitas industri berskala besar.

Pembangunan bangunan, jalan, serta permukaan kedap air berpotensi mengubah pola limpasan hujan apabila tidak diimbangi sistem drainase dan retensi yang memadai.

Apakah kajian hidrologi kawasan sudah memperhitungkan akumulasi pembangunan seluruh tenant, termasuk rencana AI Factory 1 GW, serta skenario hujan ekstrem?

Pertanyaan itu menjadi semakin penting bagi masyarakat dan infrastruktur transportasi di sekitar kawasan.

Baca Juga :  Tim Hukum TRC Faktual.net Desak Disperin Tak Berhenti pada Surat Pemanggilan Depo Rajawali Bangunan

Mesin AI Butuh Listrik Besar, Bagaimana Dampaknya terhadap Lingkungan?

Kebutuhan listrik merupakan persoalan berikutnya.

Data profil investasi Jawa Tengah mencatat infrastruktur kelistrikan kawasan berupa tiga penyulang berkapasitas total 34 MW yang terpasang pada 2022, serta gardu induk utama 2 x 60 MVA hingga 2024.

Sementara itu, AI Factory direncanakan dimulai pada skala 200 MW sebelum dikembangkan hingga 1 GW.

Data kelistrikan terdahulu tersebut tidak otomatis menggambarkan kapasitas yang akan tersedia ketika proyek mulai beroperasi. Namun, selisih skala itu menegaskan perlunya penjelasan mengenai rencana pembangunan infrastruktur energi tambahan.

Apakah listrik akan sepenuhnya dipasok jaringan PLN? Apakah terdapat pembangkit khusus? Berapa kontribusi energi terbarukan?

International Energy Agency dalam kajian Energy and AI menjelaskan bahwa pertumbuhan pusat data meningkatkan permintaan listrik global, dengan dampak emisi yang sangat dipengaruhi oleh sumber pembangkitnya.

Apabila tambahan pasokan energi masih berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil, maka konsekuensi emisinya juga perlu dihitung.

Belum lagi persoalan genset cadangan, sistem penyimpanan energi, kebisingan, limbah baterai, dan pergantian perangkat elektronik yang harus memiliki mekanisme pengelolaan sesuai karakteristik limbahnya.

Kemajuan digital seharusnya tidak mengalihkan beban lingkungan tanpa transparansi.

Risiko Limbah Pendingin dan Ekosistem Pesisir

Ada satu persoalan yang kerap luput dari perhatian publik: sistem pendinginan dan pembuangan panas.

Tidak semua pusat data membuang air pendinginnya ke lingkungan. Teknologi pendinginan tertutup bahkan dapat menekan konsumsi air secara signifikan.

Namun, apabila rancangan fasilitas menggunakan menara pendingin evaporatif atau menghasilkan air buangan proses, pengelolaan bahan kimia, temperatur, serta kualitas efluen harus dikaji secara cermat.

Apabila terdapat pelepasan air buangan ke badan air, dampaknya terhadap kualitas perairan perlu diuji.

Di kawasan yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas pesisir, potensi dampak tidak langsung terhadap ekosistem laut dan mata pencaharian nelayan juga patut dimasukkan dalam penapisan risiko sesuai lokasi dan desain proyek.

Karena itu, masyarakat berhak mengetahui apakah sistem pendinginan yang direncanakan menggunakan teknologi hemat air, bagaimana proses pengolahan limbahnya, dan ke mana air buangan akan dialirkan apabila memang dihasilkan.

Tanpa rancangan teknis yang terbuka, tidak tepat menyimpulkan pencemaran pasti terjadi. Namun, tidak tepat pula mengabaikan potensi dampaknya.

Gubernur Sebut Masih Kajian, Publik Perlu Mengetahui Hasilnya

Pada 7 Oktober 2026, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa rencana pembangunan pusat data AI di Batang masih berada dalam tahap kajian.

Dinas ESDM Jawa Tengah juga mengakui telah memperoleh informasi proyek, tetapi belum mendapatkan rincian teknis yang memadai.

Kondisi tersebut justru menjadi momentum agar kajian lingkungan, kebutuhan energi, dan ketersediaan sumber air dibahas secara transparan sebelum proyek memasuki fase pembangunan.

Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 mengatur penyelenggaraan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Bentuk dokumen lingkungan yang wajib disiapkan proyek harus ditentukan sesuai jenis, skala, lokasi, dan karakteristik dampaknya.

Publik perlu mengetahui apakah proyek memerlukan AMDAL tersendiri atau perubahan dokumen lingkungan kawasan, bagaimana dampak kumulatifnya dianalisis, serta bagaimana keterlibatan masyarakat terdampak dilaksanakan.

KEK dan Investor Perlu Menjawab Sebelum Mesin Mulai Bekerja

Setidaknya terdapat enam hal mendasar yang perlu dijelaskan secara terbuka oleh pengelola KEK Industropolis Batang bersama para pihak yang bertanggung jawab atas proyek Zankore.

Pertama, berapa kebutuhan air harian pada tahap 200 MW dan 1 GW, termasuk skenario saat kemarau?

Kedua, dari mana seluruh pasokan air akan diambil dan bagaimana pengaruhnya terhadap hak serta kebutuhan masyarakat?

Ketiga, bagaimana jaminan daya dukung infrastruktur drainase setelah seluruh pengembangan kawasan diperhitungkan?

Keempat, apa sumber pasokan listrik dan proyeksi emisi karbonnya?

Kelima, bagaimana rancangan sistem pendinginan, pengelolaan air limbah, limbah elektronik, dan keselamatan lingkungan?

Keenam, kapan hasil kajian lingkungan yang relevan dapat diakses masyarakat dan siapa yang bertanggung jawab apabila kelak terjadi dampak yang melampaui batas yang diizinkan?

Semua pertanyaan tersebut merupakan ruang klarifikasi bagi investor maupun pengelola kawasan, bukan kesimpulan bahwa telah terjadi pelanggaran.

Batang tentu memiliki peluang besar memperoleh manfaat dari investasi teknologi dunia. Namun, manfaat ekonomi dan perlindungan lingkungan tidak semestinya dipertentangkan. Keduanya harus dipastikan berjalan bersama.

Pabrik AI terbesar Asia Tenggara dapat menjadi kebanggaan nasional apabila dibangun di atas perencanaan matang, transparansi, dan perlindungan nyata terhadap lingkungan.

Tetapi jika persoalan air, energi, drainase, dan limbah baru dibicarakan setelah fasilitas beroperasi, ruang untuk mencegah dampak buruk akan jauh lebih sempit.

Jangan sampai mesin yang dirancang membantu manusia berpikir lebih cerdas justru dibangun tanpa perhitungan lingkungan yang sama cermatnya.

Pertanyaan akhirnya sederhana: siapkah KEK Industropolis Batang dan para investor membuka data untuk membuktikan bahwa pembangunan AI Factory terbesar ASEAN juga aman bagi masa depan lingkungan dan masyarakat Batang?

Tanggapi Berita Ini