Example floating
Berita

Ratusan Warga Diduga Keracunan MBG di Bawang Batang, Operasional Dapur SPBG Dihentikan Sementara

×

Ratusan Warga Diduga Keracunan MBG di Bawang Batang, Operasional Dapur SPBG Dihentikan Sementara

Sebarkan artikel ini
Wakil Bupati Batang Suyono Tinjau kondisi korban di RSUD Kalisari
Wakil Bupati Batang Suyono Tinjau kondisi korban di RSUD Kalisari

Faktual.Net, Batang, Jateng – Sebanyak 276 orang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan melalui dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang.

Wakil Bupati Batang Suyono meninjau langsung kondisi para korban yang mendapatkan perawatan di RSUD Kalisari Batang pada Rabu (23/9/2026) malam.

Berdasarkan data sementara, jumlah korban yang terdata hingga pukul 20.38 WIB mencapai 275 orang. Angka tersebut kemudian diperbarui menjadi 276 orang dan masih berpotensi bertambah seiring proses pendataan dan pemantauan yang dilakukan pemerintah daerah.

Suyono menyampaikan, para korban terdiri atas siswa dan orang tua siswa. Sebagian orang tua diduga turut mengonsumsi makanan yang dibawa pulang oleh anak mereka.

“Pukul 20.38 total 275 yang terdaftar di Bawang. Jadi perkembangan tetap kita tunggu, yang penting kita prihatin bersama. Semoga kejadian ini menjadi yang terakhir,” ujar Suyono.

Instruksikan Penanganan Maksimal di RSUD Batang
Suyono mengatakan, dirinya telah menginstruksikan RSUD Batang untuk memberikan penanganan medis secara maksimal kepada seluruh korban agar proses pemulihan dapat berjalan dengan baik.

Dugaan keracunan tersebut terjadi pada penerima manfaat program MBG dari 11 lembaga pendidikan di Kecamatan Bawang. Adapun lembaga yang menerima distribusi makanan dari dapur SPPG terkait meliputi:
SDN 1 Bawang.
SDN 3 Bawang.
TK Pertiwi.
MA Sunan Kalijaga.
MTs Sunan Kalijaga.
TK Kuncup Mekar.
TP Ananda.
Pos PAUD Anggrek Mas.
TK Qurota ‘Ayun.
RA Al Hidayah.
MI Salafiyah Pasusukan.

“Total penerima manfaat dari dapur SPPG yang melayani lembaga-lembaga tersebut mencapai sekitar 2.700 orang,” jelasnya.

Suyono menuturkan, Pemerintah Kabupaten Batang masih melakukan pendataan serta pemantauan terhadap perkembangan jumlah korban.

Potensi bertambahnya pasien juga menjadi perhatian, khususnya terkait kapasitas fasilitas kesehatan di wilayah Batang.

“Kalau di Batang semua penuh, tinggal nanti lari ke puskesmas yang rawat inap. Masih ada di Bandar, itu kan bisa untuk menampung sebagian,” ungkapnya.

Baca Juga :  Gerak Cepat Padamkan Kebakaran Lahan di Gowa, Sinergi TNI dan Manggala Agni Buat Hasil Nyata

Pemerintah daerah, lanjut Suyono, terus berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan untuk memastikan korban mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan medis.

Untuk mengetahui penyebab dugaan keracunan, Suyono menginstruksikan Dinas Kesehatan Kabupaten Batang melakukan pemeriksaan terhadap sampel makanan yang dikonsumsi para korban.

Sampel makanan telah diambil untuk menjalani pemeriksaan laboratorium. Berdasarkan keterangan awal dari sejumlah korban, salah satu menu yang dicurigai berkaitan dengan kejadian tersebut adalah olahan telur.

Namun, pemerintah daerah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebabnya.

“Sampel makanan telah diambil untuk kemudian dilakukan pemeriksaan laboratorium. Dari keterangan korban, salah satu menu yang dicurigai menjadi penyebab adalah olahan telur.

Namun, pemerintah daerah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian tersebut,” tegas Suyono.

Suyono mengingatkan seluruh pihak agar tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kejadian sebelum hasil pemeriksaan laboratorium diterbitkan.

Sebagai langkah pencegahan, operasional dapur SPPG yang menyediakan makanan tersebut dihentikan sementara.

Pemkab Batang juga akan melakukan evaluasi terhadap pengelolaan dapur, termasuk penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam proses pengolahan dan distribusi makanan.

Korwil dan pengelola SPPG terkait akan dipanggil untuk dimintai keterangan sekaligus menjalani evaluasi guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.

“Keselamatan penerima manfaat menjadi prioritas pemerintah daerah,” kata Suyono.

Sementara itu, kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap berlangsung seperti biasa bagi siswa yang dalam kondisi sehat. Adapun siswa yang masih menjalani perawatan atau mengalami sakit diminta beristirahat hingga dinyatakan pulih.

Pemerintah daerah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab dugaan keracunan, sementara pendataan korban dan evaluasi pengelolaan dapur SPPG terus dilakukan.

Tanggapi Berita Ini