faktual,net,Takalar,Sulsel — Di saat antrean BBM mengular sampai ke badan jalan dan warga antre sejak jam 3 subuh, Bupati Takalar justru meminta masyarakat “TIDAK PANIK, pada Sabtu (12/9/2026)
Pernyataan itu langsung diserang aktivis. Bagi mereka, ini bukan imbauan. Ini bentuk cuci tangan.
“Ini bukan zaman orba. Rakyat tidak bodoh. Lihat sendiri SPBU kosong, antrean mengular. Tiba-tiba disuruh jangan panik? Panik itu wajar, karena pemerintahnya yang tidak hadir,” tegas Uddin, aktivis Takalar kepada FAKTUAL.NET, sabtu 12/09/2026.
BBM langka sama dengan pemerintah gagal Uddin menyebut kelangkaan BBM bukan musibah. Ini kegagalan manajemen.
“BBM itu urat nadi. Nelayan Galesong tidak melaut. Petani Pattallassang tidak bisa tanam. Ojek, angkot, UMKM lumpuh. Ini bukan soal antre. Ini soal pemerintah gagal menjamin kebutuhan dasar rakyat,” katanya dengan nada tinggi.
Ia menuding Pemkab Takalar hanya jago bikin narasi, tapi nol dalam eksekusi. Koordinasi dengan Pertamina? Pengawasan penimbun? Pengaturan di SPBU? Semua tidak terlihat.
Segera buka datanya dan menantang Pemkab Takalar untuk berhenti bersembunyi di balik imbauan.
“Kalau berani bilang stok aman, buka datanya. Sebutkan berapa liter masuk, berapa yang disalurkan, siapa yang mengawasi. Jangan asal ngomong tenang-tenang saja sementara rakyat disuruh rebutan di SPBU,” tukasnya.
Ia juga mendesak sidak langsung ke SPBU dan pangkalan. Karena menurutnya, kelangkaan ini 70% ulah mafia dan lemahnya pengawasan.
“Jangan jadikan rakyat kambing hitam. Yang harusnya panik itu pemerintah. Karena ini bukti nyata mereka tidak becus urus Takalar,” sindirnya.
Ujian gagal Bagi Uddin, krisis ini adalah rapor merah kepemimpinan.
“Kalimat ‘jangan panik’ itu gampang. Yang susah itu kerja. Turun ke lapangan. Hadapi rakyat. Kasih solusi. Jangan lempar imbauan lalu sembunyi di kantor,” pungkasnya.
Hingga berita ini naik, Pemkab Takalar dan Pertamina belum memberi keterangan resmi soal penyebab dan solusi jangka pendek kelangkaan BBM.
Reporter : Asman














