Example floating
Example floating
KampusPendidikan

Dari Bunaken hingga Rekognisi Global: Mengenal Dr. Baru Sadarun, Pakar Ekosistem Laut Calon Rektor UHO 2026–2030

×

Dari Bunaken hingga Rekognisi Global: Mengenal Dr. Baru Sadarun, Pakar Ekosistem Laut Calon Rektor UHO 2026–2030

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

faktual.net, Kendari, Sultra. Genderang Pemilihan Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) periode 2026–2030 resmi ditabuh. Di antara deretan figur yang muncul, nama Dr. Baru Sadarun, S.Pi., M.Si. mencuri perhatian publik akademik. Beliau bukan sekadar akademisi menara gading yang sibuk di balik meja kerja. Sosok yang kini diamanahkan sebagai Balon Rektor UHO Nomor Urut Satu ini adalah nakhoda tangguh yang telah membuktikan kesungguhan dan pengalaman nyatanya dalam memajukan institusi.

Sebagai Ketua Jurusan Ilmu Kelautan FPIK UHO, Dr. Baru sukses membawa jurusannya meraih Akreditasi Unggul sekaligus Rekognisi Internasional. Di tingkat nasional, ia dikenal luas sebagai tokoh kunci penyelamat lingkungan hidup dan arsitek kebijakan konservasi laut Indonesia.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Kini, dengan membawa jargon visioner “UHO KEREN: Bergerak, Bertumbuh, Berdampak”, Dr. Baru Sadarun hadir menawarkan cetak biru transformasi radikal: membawa UHO melompat dari kampus berdaya saing regional menjadi universitas inovatif berkelas dunia (World Class University), tanpa kehilangan akar kearifan lokal Sulawesi Tenggara.

Lahir di Raha, 23 Juli 1971, Dr. Baru Sadarun mengukir konsistensi akademik yang langka di bidang teknologi dan biologi kelautan. Meraih gelar sarjana di Universitas Sam Ratulangi (1995), beliau kemudian menuntaskan studi Magister (1999) dan Doktor (2011) di kampus pencetak ahli kelautan terbaik bangsa, Institut Pertanian Bogor (IPB).

Kesungguhan Dr. Baru tidak hanya diuji di ruang kelas, tetapi di medan nyata yang penuh tantangan. Negara berulang kali memanggilnya sebagai Tenaga Ahli Utama di berbagai kementerian strategic (KKP RI, KLHK RI, dan Kementerian Kehutanan RI) untuk menyelesaikan sengketa lingkungan strategis berskala nasional. Saat terumbu karang eksotis hancur akibat kandasnya kapal-kapal besar di berbagai penjuru negeri, Dr. Baru adalah tokoh yang turun langsung melakukan verifikasi, negosiasi, dan perhitungan ganti rugi ekologis.

Rekam jejak kepemimpinan krisisnya yang diakui secara nasional meliputi sembilan kasus besar:
1. Taman Nasional Bunaken (2026): Memimpin verifikasi dan perhitungan sengketa kerusakan karang akibat kandasnya KM Baruna Raya.
2. Pulau Derawan, Kaltim (2026): Menyelesaikan verifikasi kerusakan terumbu karang akibat kandasnya LCT Raymond.
3. Raja Ampat, Papua Barat Daya (2025): Menangani sengketa lingkungan akibat kandasnya Kapal Velocity di perairan Pulau Wai.
4. Cagar Alam Laut Leuweung Sancang, Garut (2023): Menyelesaikan sengketa kerusakan karang akibat kandasnya MT Edricko 3.
5. Perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta: Menjadi tim ahli dalam penyelesaian klaim ganti rugi kerusakan ekosistem laut akibat tumpahan minyak dan kandasnya kapal komersial.
6. Perairan Bangka Belitung: Memimpin valuasi ekonomi lingkungan atas kerusakan karang akibat aktivitas tambang ilegal dan lalu lintas kapal pengangkut komoditas.
7. Kawasan Konservasi Perairan Karimunjawa: Menangani mediasi dan hitungan ekologis kerusakan terumbu karang akibat hantaman tongkang batu bara.
8. Perairan Selat Sunda: Terlibat aktif dalam audit lingkungan dan restorasi pasca-bencana serta aktivitas industri yang mengancam zona pesisir.
9. Kawasan Pesisir Sulawesi Tenggara: Menjadi benteng ilmiah utama dalam mengawal sengketa pencemaran laut akibat sedimentasi aktivitas nikel, memastikan hak-hak nelayan lokal dan kelestarian ekologi tetap terjaga.

Lebih dari itu, kontribusi besarnya bagi regulasi nasional adalah keterlibatan aktifnya sebagai perumus kebijakan publik dalam menyusun Peraturan Pemerintah (PP) No. 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan. Atas dedikasi luar biasa ini, beliau dianugerahi penghargaan internasional bergengsi “Man And Biosphere” dari UNESCO – PBB serta predikat Peneliti Muda Terbaik Bidang Penyelamatan Lingkungan dari LIPI (sekarang BRIN) pada tahun 2001. Pengalaman empiris inilah yang menjadi modal berharga untuk menakhodai UHO menjadi kampus yang disegani.

Analisis Strategis: UHO Berada di Titik Mutu “Unggul”, sebagai calon rektor yang mengedepankan pendekatan berbasis data (data-driven leadership), Dr. Baru Sadarun melihat bahwa raihan Akreditasi Unggul UHO dengan nilai 363 adalah modal sejarah yang luar biasa. Namun, dengan ketajaman analisisnya, beliau mengingatkan bahwa tantangan masa depan jauh lebih kompleks. Dengan kekuatan 1.621 dosen (di mana 34% bergelar Doktor dan memiliki 158 Guru Besar), UHO memiliki pekerjaan rumah besar untuk mencapai target Renstra Transisi, yaitu 70% dosen berkualifikasi doktor pada 2029.

Baca Juga :  Panen Prestasi hingga Raih BOS Kinerja, SMAN 2 Konawe Selatan Diburu Lebih dari 300 Calon Murid Baru

“UHO tidak boleh cepat berpuas diri di zona nyaman nasional. Kita menghadapi disrupsi Artificial Intelligence (AI) dan tuntutan ‘Kampus Berdampak’ dari Kemdiktisaintek. Strategi ke depan bukan lagi sekadar mempertahankan mutu, melainkan melakukan lompatan institusional (akselerasi) dari zona daya tarik regional menuju daya saing global,” tegas Dr. Baru dengan penuh optimisme saat memaparkan analisis SWOT-nya.

Visi Besar 2026–2030: UHO KEREN, Sultra Maju, Indonesia Bangga Menjawab tantangan zaman, Dr. Baru Sadarun telah merumuskan Visi Besar UHO Periode 2026–2030 yang sangat terukur:
“Menjadikan UHO sebagai Universitas Inovatif Berkelas Dunia yang Berakar pada Kearifan Lokal, Berdaya Saing Global, dan Menjadi Katalis Kemajuan Sulawesi Tenggara.”

Melalui visi ini, beliau berkomitmen mewujudkan semangat “UHO Bisa. Sultra Maju. Indonesia Bangga.” yang ditopang oleh prinsip UHO KEREN: Bergerak secara adaptif, Bertumbuh dalam kualitas, dan Berdampak nyata bagi masyarakat.

Enam Pilar Misi: Komitmen Nyata Menuju UHO Hebat Untuk mengejawantahkan visi besar tersebut menjadi aksi nyata, Dr. Baru Sadarun telah menyusun Peta Jalan Transformasi 2026–2030 yang diuraikan ke dalam 6 misi taktis dan program kerja prioritas:

1. Transformasi Digital & Kampus Cerdas (Smart Campus)

Membangun platform tunggal terintegrasi “UHO Digital” untuk memangkas birokrasi akademik, keuangan, hingga kemahasiswaan. Menerapkan dashboard kinerja pimpinan secara real-time berbasis data dan mengintegrasikan kurikulum berbasis AI.

2. Riset dan Inovasi Kelas Dunia

Menjadikan kekayaan laut, pesisir, dan perdesaan Sultra sebagai laboratorium riset internasional. Membangun Integrated Agro-Marine Research System dengan target melahirkan 100+ HKI/Paten baru serta produk hilirisasi nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat.

3. Kualitas SDM dan Keunggulan Akademik

Mengakselerasi lahirnya guru besar baru, memberikan beasiswa S3 bagi dosen, meningkatkan employability (daya serap) lulusan hingga 90%, dan memfasilitasi magang mahasiswa yang berkualitas selama 2 semester.

4. Internasionalisasi dan Kolaborasi Global

Menyiapkan program studi untuk meraih akreditasi internasional, membuka program double degree, serta memperluas jejaring dengan organisasi global seperti UNESCO dan FAO demi menembus peringkat QS Asia University Rankings.

5. Motor Ekonomi Lokal Sulawesi Tenggara

Menjadikan UHO sebagai think tank (mitra berfikir) utama kebijakan pemerintah daerah, mendorong green and blue economy, serta menerjunkan 5.000+ mahasiswa KKN Tematik Berdampak untuk membangun desa-desa di Sultra.

6. Tata Kelola Bersih dan Reformasi Birokrasi

Menerapkan zero tolerance terhadap korupsi, mempercepat layanan administrasi maksimal 3 hari kerja, mendirikan Unit Ombudsman Internal, dan menerapkan sistem penghargaan (reward) berbasis kinerja yang adil bagi seluruh sivitas akademika.
Menuju Peta Jalan 2030: Saatnya UHO Berlayar Lebih Jauh
Dalam dokumen rancangan strategisnya, tahun 2026 akan dijadikan oleh Dr. Baru sebagai Tahun Konsolidasi Mutu dan Fondasi Digital. Target besarnya sangat jelas: pada tahun 2030, UHO sudah menjadi kiblat pendidikan tinggi di Indonesia Timur yang diakui di panggung internasional, sukses menarik ratusan peneliti asing, dan melahirkan lulusan-lulusan tangguh yang siap memimpin di era global.

Dengan perpaduan matang antara kepemimpinan birokrasi yang bersih, reputasi ilmiah internasional yang diakui PBB, serta komitmen total pada kemajuan daerah, Dr. Baru Sadarun hadir sebagai figur nomor satu yang paling siap.

Kesungguhan dan pengalaman nyatanya adalah garansi utama untuk membawa Universitas Halu Oleo keluar dari zona nyaman, berlayar lebih jauh, dan menaklukkan samudera prestasi dunia. UHO Hebat bukan lagi sekadar impian, melainkan sebuah masa depan yang siap diwujudkan.

Redaksi

Tanggapi Berita Ini