Faktual.Net, Kendari — Presiden Mahasiswa (Presma) IAIN Kendari, Risdawati menanggapi rencana kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang akan mengevaluasi hingga menutup program studi (prodi) yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
Menurut Risdawati, pendekatan penutupan bukan solusi utama. Kebijakan ini berpotensi mereduksi makna dan fungsi perguruan tinggi yang akan dipandang hanya sebagai pemasok tenaga kerja. Padahal, hakikat pendidikan tinggi jauh lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan pasar.
Perguruan tinggi, kata Risdawati, adalah ruang lahirnya pemikiran kritis, pusat pengembangan ilmu pengetahuan, serta penjaga nilai-nilai kebudayaan dan kemanusiaan.
“Jika kebijakan pendidikan hanya berorientasi pada tren industri jangka pendek, maka kita sedang mempertaruhkan masa depan intelektualitas bangsa,” ucapnya, Selasa (28/04).
Risdawati menegaskan bahwa setiap kebijakan terkait penutupan atau pembatasan program studi harus berpijak pada kajian yang komprehensif, dan berjangka panjang. Tidak cukup hanya menggunakan indikator serapan kerja atau kebutuhan industri saat ini saja sebagai dasar utama pengambilan keputusan.
“Kami menolak jika perguruan tinggi diposisikan semata-mata sebagai pabrik tenaga kerja. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, bukan sekadar menyiapkan alat produksi. Ilmu dasar, humaniora, dan studi keagamaan memiliki peran vital dalam membentuk peradaban yang berimbang,” tegasnya.
Presiden Mahasiswa IAIN Kendari menilai kebijakan yang terlalu pragmatis justru berisiko mematikan keberagaman disiplin ilmu yang selama ini menjadi kekuatan utama dunia akademik.
“Ketika hanya program studi yang laku di pasar yang dipertahankan, maka kita sedang mengikis fondasi berpikir kritis, etika, dan nilai-nilai kebangsaan,” ujarnya.
Tak hanya itu, ia menekankan bahwa pelabelan tidak relevan terhadap suatu program studi bersifat tidak absolut, justru berisiko mempersempit ekosistem keilmuan dan melemahkan peran strategis kampus sebagai pusat peradaban.
“Program studi yang hari ini dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan pasar, tidak ada jaminan akan tetap tidak relevan dalam 10 hingga 20 tahun ke depan. Dinamika zaman, perkembangan teknologi, serta perubahan sosial justru sering kali melahirkan kebutuhan-kebutuhan baru yang sebelumnya tidak terbayangkan,” ucapnya.
IAIN Kendari melalui Presiden Mahasiswa mengajak seluruh elemen akademik, mahasiswa, dan masyarakat untuk bersama-sama mengawal arah kebijakan pendidikan nasional agar tetap berpijak pada nilai-nilai keilmuan, kemanusiaan, dan keadilan.
“Pendidikan tidak boleh tunduk sepenuhnya pada logika pasar. Sebaliknya, pendidikan harus menjadi kompas yang menuntun arah peradaban,” pungkasnya.
Sebelumnya, Kemendiktisaintek mendorong perguruan tinggi untuk memilah hingga menutup program studi (prodi) yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan pasar kerja ke depan. Rencana tersebut disampaikan dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 di Kabupaten Badung, Bali, Kamis (23/4/2026).
Reporter: Adi
Editor: Kariadi













