Example floating
Politik

Antara IDP Diam dan SAFA’AD Bergerak

×

Antara IDP Diam dan SAFA’AD Bergerak

Sebarkan artikel ini

Oleh: Pemerhati Dana Mbojo

FAKTUAL.NET. Tahun 2020 sudah berjalan, Pilkada Serentak beberapa bulan lagi akan mulai, hanya tersisa delapan bulan lagi. Hampir disemua daerah baik petahana maupun para penantang sudah mulai deklarasi dengan skema koalisi partai politik yang rampung.

Kenyataan ini sangatlah berbeda dengan suasana Pilkada di Kabupaten Bima. Antara petahana maupun penantang masih memasang posisi kuda-kuda, masih saling membaca dan saling menguliti satu sama lain, walaupun gerak langkah sang penantang lebih terlihat jelas dilapangan. Petahana dengan segala instrumen politiknya seharusnya lebih terang dan jelas tetapi nampaknya lebih lamban dan lebih hati-hati dalam menentukan sikap.

Dibandingkan langkah sang Petahana Indah Damayanti Putri (IDP), pergerakan sang penantang H. Syafrudin-Ady Mahyudi justru terlihat lebih cepat dan terukur. Tidak hanya mereka lebih awal star bergeliria dilapangan, juga mereka telah bergerak dengan kekuatan dua kali lipat karena mengunakan Jargon pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati (Safa’ad). Atmosfir Syafa’ad benar-benar terasa dimasyarakat, bahkan jaringan relawannya sudah menyebar hampir di sebagian besar wilayah kabupaten Bima. Sementara relawan IDP masih berstatus kelompok-kelompok kecil yang belum teroganisir dengan baik.

Jargon Syafa’ad yang digelorakan oleh pasangan Syafru-Ady dan relawannya tidak bisa dianggap remeh oleh petahana, walaupun sampai saat ini pasangan syafa’ad belum ada kabar secara resmi di usung oleh partai manapun. Tetapi bisa saja langkah Syafa’ad ini akan menyulitkan IDP bila pasangan ini benar-benar di usung oleh koalisi Nasdem dan PAN.

Segala kemungkinan itu bisa segera diantisipasi apabila IDP juga sesegara mungkin untuk mendeklarasikan pasangannya. Posisi IDP sebagai petahana sebenarnya cukup beralasan untuk mempercepat deklarasi. Pertama, dengan 9 kursi DPRD Partai Golkar, IDP diangggap tidak sulit mendeklarasikan lebih awal, apalagi ditambah dengan sederetan partai politik lain yang memiliki kecenderungan berkoalisi dengan Partai Golkar.

Kedua, bahwa IDP sudah mengantongi enam nama Calon Wakil Bupati yang telah mendaftar di Partai Golkar, cukup rasional juga IDP untuk memutuskan Calon Wakilnya sehingga dia tidak berjalan sendiri. Dengan dua alasan dasar itu IDP dianggap cukup untuk mematangkan niat memilih pasangannya, karena IDP harus berhati-hati jangan sampai keterlenaan merugikan kesempatanya.

Tidak menunggu waktu yang lama IDP langsung bergerak. Safari politik atau istilah kerennya Kunker di Sape pasca satu hari turun Umrah adalah langkah imbang terhadap segala aktifitas Safa’ad dilapangan. Pemilihan tempat Kunker-pun adalah pilihan politis, bahwa disana adalah pemilih terbanyak. Pertanyaanya kenapa tidak di Bima Barat seperti Bolo dan Woha? Ya, disana sarangnya Safa’ad. Langkah itu secara politik itu tepat, tetapi harus dipahami bahwa saat itu kapasitasnya sebagai Bupati bukan Calon Bupati, maka dianggap wajar saja karena itu ritual kewajibannya. Itulah kenapa saya mengatakan bahwa langkah IDP masih “Diam”.

Masih ingatkah bagaimana Ahok mantan Gubernur DKI jakarta dulu, popularitas dan elektabilitasnya sebagai petahana mencapai 65 persen. Kepercayaan dirinya begitu tinggi hingga menggada-gadangkan dirinya maju secara independen. Program-programnya Jalan trus tanpa henti bahkan rutinitas dia melakukan kunjungan kemasyarakat tidak pernah terputus.

Kenyataanya, dibalik seluruh sumber daya yang dimiliki Ahok itu rupanya dia tetap gelisah dan sangat berhati-hati dalam memilih wakilnya. Bahkan saya pernah ikut dalam acara dialog publik dengan tema “Cawabub Ideal untuk Ahok, Siapa?”. Dalam acara itu narasumbernya adalah petinggi Partai Politik dan Pengamat serta Peneliti, diantaranya; Dr.Tb. Ace Hasan Syadzily, M.Si (Juru Bicara Pemenangan Partai Golkar), Sirojudin Abbas, P.hD (Peniliti SMRC), Abdul Hakim MS, S.Ip, M. (Pengamat Karakter dan Media), dan Rizkie Maulana Putra, S.Kom, M.SM (Muda-Mudi Ahok).

Ahok terus terlena dan lupa bahwa Sandiaga Uno telah berjalan satu tahun lebih awal memperkenalkan diri kemasyarakat DKI termasuk memasuki pasar-pasar tradisional bahkan melakukan blusukan ke daerah-daerah pinggir sungai. Kenyataan ini perlu menjadi pelajaran yang berharaga bagi semua petahana termasuk IDP. Jangan lupa bahwa hampir rata-rata Petahana pada Pilkada akhir-akhir ini banyak yang tumbang.

Mungkin IDP tidak perlu mengambil pelajaran yang terlalu jauh, dia bisa belajar saat dia mengalahkan pasangan H. Syafrudin-H. M. Masykur (Syukur) pada Pilkada 2015 lalu. Begitu percaya dirinya Relawan H.Syafrudin (Relasi) pada saat itu sampai berani berpendapat bahwa Syafru akan menang sekalipun berpasangan dengan “Sandal Jepit”. Pernyataan itu tidak hanya arogan tetapi melampui batas, seolah-olah ingin melawan tuhan. Padahal kenyataan yang tidak disadari oleh mereka bahwa H. Syafru begitu sibuk menjajaki Calon Wakilnya mulai dari Sape, woha, belo, Langgudu dan diseluruh kecamatan yang memiliki basis masa besar.

Kenyataan pada saat itu saya meyakini bahwa Syafru sedang gelisah dan panik karena IDP sudah mulai ancang-ancang maju untuk menantangnya. Dan itu terbukti pada akhirnya dia kalah telak. Artinya apa? Saya menuliskan opini supaya kenyataan pahit Syafru pada Pilkada sebelumnya tidak kembali menimpa IDP pada Pilkada 2020 mendatang apalagi misalnya duel maut ini akan kembali berulang.

Saya khawatir bahwa IDP sedang mengalami gejolak emosi yang sama seperti Ahok maupun Syafru pada saat itu sehingga IDP terkesan berhati-hati bahkan terkesan merahasiakan Calon Wakilnya. Apa mungkin IDP sedang mengkalkulasi kekuatan dari Syafa’ad? Ataukah benar karena rumor soal kekhawatirannya terhadap nasib putra mahkotanya di tahun 2025? Maka jawabanya dapat dilihat dari IDP memilih calon wakilnya nanti.

Jika demikian maka IDP harus segera mungkin memutuskan Calon Wakilnya agar cepat keluar dari zona aman dan kepercayaan dirinya itu. Dengan begitu kekuatan Pasangan Calon Bupati-Wakil Bupati bisa dia gaungkan untuk mematahkan kekuatan Syafa’ad yang terus bergelora menembus kampung-kampung sekarang ini.

Sebagai pesan terakhir saya kepada IDP “Didalam politik tidak ada istilah percaya diri, karena disaat kita kuat orang lain bisa memanfaatkan sekecil kelemahan kita, pada akhirnya secuil kelemahan itu membuat kita jatuh tersungkur”.

Tanggapi Berita Ini