faktual.net,Jakarta – Ibadah Perayaan Gotilon dan juga yang disatukan dengan HUT HKBP Resort Ancol Podomoro yang ke 44 Tahun, dilakukan pada Minggu (28/9).Belangsung dengan Khidmat dan lancar, dengan suka cita.

Pendeta (pdt/(uluan) HKBP Resort Ancol Podomoro Jakarta yang dipimpin oleh Pendeta Juvri V. Manalu, Sth, mengatakan bahwa, Acara Ibadah dan sekaligus Kegiatan Pesta Gotilon serta Ucapan syukur berdirinya Gereja yang ke 44 tahun dilaksankan secara bersamaan.
“Acara ini kami lakukan secara bersamaan agar semua jemaat merasakan kehangatan talikasih dalam keimanan serta sepenanggungan, dalam pelayanan terhadap ajaran Kristus Yesus”Jelas Pdt.Juvri saat usai pelaksanaan acara tersebut minggu (28/9).

Sementara itu Ketua Panitia Saddan Sitorus, SH, mengatakan ucapan terimakasih kepada Jemaat (ruas) HKBP Resort Ancol Podomoro, Parhalado (pendeta, sintua (penatua), dan diakones), yang secara kebersamaan mendukung terlaksana nya acara Pesta Gotilon dan HUT dengan berpartisipasi berbagi hasil yang didapat dari buahtangan, atau hasil kerja.
“Terimakasih dengan kebersamaan dan partisipasi sesama Jemaat dan parhalado, karena acara ini terjadi dari kita, untuk kita dan oleh kita, yang kita Persembahkan sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus,” Ucapnya.

Khotbah Ibadah dibawakan oleh Pendeta Prof.Dr.Binsar Pakpahan, Ph. D, dan sebegai Liturgis Pendeta Windi Rusdiana Sianturi, S.Si, ayat khotbah dari Kolosse 1 : 15-20 “Kolosse 1:15-20 (TOBA) (III.) Ibana do suman ni Debata na so tarida i; na parjolo tubu sian nasa na tinompa.
Ai marhite sian Ibana do ditompa saluhutna, na di banua ginjang dohot na di tano on, na tarida dohot na so tarida i, angka habangsa, angka harajaon, angka gomgoman, angka parhuasoon; saluhutna i do ditompa marhitehite Ibana, jala marhapatean tu Ibana.
Jala di jolo ni saluhutna do Ibana, jala saluhutna i do hot di bagasan Ibana.
Ibana do ulu ni daging i, i ma huria i. Ibana do parmulaan, naung parjolo tubu sian angka na mate, asa Ibana parjolo di na saluhutna.
Ai ditontuhon Debata do, naeng ma maringanan di bagasan Ibana sandok hagogokna i!
Laos marhite sian Ibana do padengganonna tu dirina saluhutna i, nang angka na di tano, nang angka na di banua ginjang, dung dipatupa dame marhitehite mudar na sian silangna i, marhitehite Ibana.
Terjemahan bahasa Indonesia Kolose 1:15-20 “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,
karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,
dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.
Pendeta Binsar dalam khotbahnya menjelaskan, bahwa Gotilon sebagai ucapan syukur (mauliate) kepada Tuhan Sang Pencipta yang telah memberikan umatNya atau Pengikut Kristus dari hasil kerja sebagai Persembahan yang terbaik, atau memberikan persembahan kepada Tuhan dari hasil kerja, bisa hasil dari panen pertanian, perkebunan, hasil dari nelayan, peternakan, dan sejenisnya, jika didaerah perkotaan dapat dipersembahkan sebagai Uang.
“Tuhan telah memberikan pendapatan kepada umatNya, sebagai ucapan syukur dari hasil kerja yang telah diterima, sebagai berkat,” Jelasnya.
Semua yang ada didunia ini adalah milik Tuhan Sang Pencipta maka sadarlah manusia jangan sesuka hati mengeksploitasi dunia atau bumi ini, harus menjaga dan merawat bumi ini,
Kristus adalah pemilik segala sesuatu, kepada-Nyalah kita tunduk, karena menjaga alam berarti menghormati Kristus sang pemilik.
“Berikanlah yang terbaik kepada allah sebagai tanda ucapan syukur mu, orang yang mudah memberi untuk berbagi, maka akan ada balas yang terbaik dari Kristus,” Pungkasnya.
Selasai Ibadah acara panitia acara Pesta Gotilon dan HUT melanjutkan dengan mempersembahkan berbagi doorprize, pemberian hadiah lomba, makan bersama, dan juga Tor-tor (budaya batak), dan juga hiburan dari artis batak.

Kutipan dari laman Goggle, Pesta Gotilon adalah upacara adat masyarakat Batak Toba yang merupakan bentuk rasa syukur atas hasil panen dan berkat yang diberikan Tuhan, serta untuk mempererat hubungan antarsesama jemaat gereja. Jemaat membawa persembahan berupa hasil panen atau uang (disebut silua) yang akan dilelang untuk keperluan gereja, disertai dengan ibadah, tarian, dan acara sukacita.

Makna dan Tujuannya
Rasa Syukur:
Pesta Gotilon menjadi momen penting untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas segala berkat dan hasil panen yang melimpah selama setahun terakhir.

Persembahan:
Jemaat membawa persembahan berupa hasil panen, buah-buahan, atau uang yang disebut silua. Persembahan ini kemudian dilelang, dan hasilnya digunakan untuk membiayai operasional dan pembangunan gereja.

Mempererat Solidaritas:
Melalui acara ini, jemaat dari berbagai latar belakang saling berinteraksi, memperkuat ikatan persaudaraan dan solidaritas di antara mereka, menciptakan rasa kebersamaan yang erat seperti satu keluarga.

Mewujudkan Tanggung Jawab Gereja:
Pesta Gotilon juga mencerminkan keyakinan bahwa jemaat memiliki tanggung jawab untuk mendukung dan mewujudkan panca tugas gereja (bersekutu, beribadah, bersaksi, edukasi, dan melayani).
Pelaksanaan Pesta Gotilon
Waktu Pelaksanaan: Pesta ini umumnya diadakan setahun sekali setelah masa panen.
Acara: Jemaat berkumpul di gereja untuk mengikuti ibadah, menari tor-tor (tarian tradisional Batak) yang diiringi musik Gondang Mangaliat, serta memberikan silua atau persembahan.
Dekorasi: Altar gereja dan area sekitarnya sering kali dihiasi dengan hasil pertanian seperti buah-buahan dan sayur mayur sebagai simbol panen.
Asal Usul Kata
Kata “gotilon” berasal dari kata “gotil” dalam bahasa Batak yang berarti mencubit, yang terkait dengan tindakan mengumpulkan hasil panen.(zul)













