Faktual net, Makassar, Sulsel- 28 Juli 2025, Indonesia tak pernah kekurangan kampus. Tapi mungkin, yang mulai langka hari ini adalah nurani di dalam kampus itu sendiri.
Di tengah derasnya jargon “pengabdian kepada masyarakat” dan “riset berbasis keadaban”, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Alauddin Makassar justru memperlihatkan sesuatu yang berlawanan: tertutup, elitis, dan makin jauh dari semangat melayani publik.
Berbagai dugaan bermunculan. Mulai dari seleksi program yang tak transparan, nama pelaksana yang itu-itu saja, hingga anggaran ratusan juta yang tak jelas mengalir ke mana. Mahasiswa KKN dikirim tanpa pembekalan yang layak, logistik amburadul, dan dosen pembimbing yang nyaris tak terlihat. Di mana letak pengabdian yang dijanjikan lembaga ini?
Yang lebih mengusik adalah diamnya LP2M ketika publik bertanya. Tak ada penjelasan. Tak ada laporan. Tak ada tanggung jawab. Seolah lembaga ini bukan berada di bawah negara, tapi di atasnya.
Padahal, kita semua tahu: LP2M bukan milik segelintir dosen atau birokrat kampus. Ia dibiayai oleh negara, dan karena itu, menjadi milik publik. Maka ketika lembaga ini menjelma menjadi ruang yang gelap dan bisu, masyarakat bukan hanya berhak—tetapi wajib untuk bersuara.
Ini bukan sekadar soal manajemen kampus. Ini menyangkut integritas akademik.
Jika lembaga pengabdian di sebuah kampus Islam negeri saja tidak jujur dan tak terbuka, dari mana kita bisa berharap akan lahir agen-agen perubahan yang bersih dari rahim universitas?
Hari ini, dari Makassar, suara ini kami sampaikan.
LP2M bukan milik segelintir orang. Ia milik masyarakat. Karena itu, ketika ia berubah menjadi ruang senyap yang penuh transaksi tersembunyi, maka masyarakatlah yang berhak memanggil kembali nuraninya.
Dan kepada para mahasiswa KKN hari ini, kami titip pesan:
Pengabdian bukan sekadar laporan PDF atau instastory penuh senyuman di akun Instagram KKN.
Tinggalkan jejak perubahan. Tinggalkan makna. Jangan hanya meninggalkan dokumentasi visual.
Kalau kalian benar-benar hadir di tengah masyarakat, maka narasi ini bukan tudingan. “Tapi ajakan. Kami tunggu tanggapan dan gerakanmu”.
(Rahim), Pemerhati Sosial dan Pendidikan, Putra Daerah Sinjai
Editor Redaksi Sulsel













