
Faktual.Net, Buteng, Sultra – Bentuk partisipasi politik adalah keikut sertaan berbagai tingkatan element masyarakat dalam mengambil sikap untuk mendukung Kebijakan, Visi & misi kontestan politik. Baik ditingkatan Eksekutif maupun Legislatif sebagai indikator dalam mendukung keberhasilan pembangunan.
Rendahnya partisipasi politik terkhusus di kelas generasi muda bukan tidak terlibatnya dalam merebut momen politik sebagai indikator keberlangsungan demokrasi melainkan memiliki kecenderungan & memaknai bahwa politik adalah uang (Politic is money).
Keadaan demikian memaksa persepsi sebagian element masayarakat bahwa ada politik maka ada uang sehingga tidak sedikit pelaku kontestan politik adalah bagian dari begroud kapitalisme yang mengendalikan politik dengan uang atau hanya mengandalkan isi tas bukan kulitas & kapasitas sehingga berdampak pada banyaknya aspirasi masyarakat yang tidak terkawal terealisasi dalam pengambilan kebijakan politik.
Ketika mendengar kata “Politik” yang terbayang di kepala anak muda ialah rebut kekuasaan, korupsi, dan kebohongan. Institusi politik sebagai penyerap dan penyalur aspirasi masyarakat kian menjauh dari imajinasi kaum muda. Apatisme kaum muda terhadap politik ataupun parpol sebenarnya bukan hal baru. Namun, hasil survei Indikator Politik Indonesia semakin mengonfirmasi kondisi kurang ideal itu.
Kaum muda jangan didekati hanya pada saat kampanye, sekadar mengajak mereka menggunakan hak pilih, atau cuma dijadikan objek politik sebagai penyumbang suara parpol. Padahal, keberadaan kaum muda dalam politik praktis sangat signifikan.
Pada Pemilu 2019 terdapat pemilih usia 21-30 tahun sebanyak lebih dari 42 juta dan pemilih berusia 20 tahun lebih dari 17 juta. Sayangnya, jumlah besar kaum muda itu masih sekadar menjadi bahan rebutan suara. Setelah pemilu usai, aspirasi anak muda tidak diwujudkan dalam kebijakan partai ataupun di lembaga-lembaga perwakilan.
Berbagai kajian politik dunia menyebutkan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam politik demi kestabilan dan kedamaian masyarakat itu sendiri. Tanpa keterlibatan mereka, kebijakan yang dihasilkan tak berumur panjang karena tidak mengakomodasi kebutuhan generasi mendatang.
Seruan politik perlu dibergai aspek seperti partai politik, pengamat politik, penyelenggara politik, maupun di tingkat pendidikan Formal untuk merebut kembali kepercayaan kaum muda bahwa perlu untuk menjemput momen dimana pelaku2 politik hari ini akan kehabisan masa produktif, maka yang akan menggantikan posisi tersebut adalah Generasi muda hari ini yang sudah siap dan Matang dengan gerakan politik itu sendiri.
Pesan penulis untuk generasi muda yaitu Politik regenerasi bisa kiamat bila Apolitis menjadi pilihan generasi muda hari ini.
Penulis Adalah Hasruddin Penggiat Politik Buton Tengah.














