Faktual.Net, Batang, Jateng — Jumlah warga yang diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, bertambah menjadi 276 orang.
Data tersebut disampaikan Wakil Bupati Batang Suyono pada Rabu, 23 September 2026. Jumlah tersebut masih bersifat sementara karena proses pendataan dan verifikasi terhadap warga yang mengalami keluhan kesehatan masih berlangsung.
“Perkembangan tetap kita tunggu. Yang penting kita prihatin bersama. Semoga kejadian ini kejadian yang terakhir,” kata Suyono.

Dari data sementara, warga yang mengalami keluhan tersebar di wilayah layanan SPPG Kecamatan Bawang. SPPG tersebut diketahui melayani sekitar 2.700 penerima manfaat.
Namun, angka 2.700 tersebut merupakan total penerima manfaat layanan SPPG, bukan jumlah warga yang mengalami dugaan keracunan.
11 Lembaga Pendidikan Masuk Cakupan Layanan
Pemerintah mencatat sedikitnya 11 satuan dan lembaga pendidikan berada dalam cakupan layanan SPPG tersebut. Seluruhnya berada di wilayah Kecamatan Bawang.
Ke-11 lembaga tersebut yakni TK Al Ikhlas, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Korotaayun, RA Al Hidayah, dan MI Salafiyah Pasusukan.
Meski masuk dalam daftar penerima manfaat, keberadaan lembaga tersebut tidak berarti seluruh siswa maupun warga di dalamnya mengalami gangguan kesehatan.
Pemerintah masih melakukan verifikasi untuk mengetahui secara pasti sebaran warga yang mengalami keluhan.
Menurut Suyono, sebagian warga yang mengalami keluhan merupakan anak penerima manfaat MBG. Selain itu, terdapat orang tua yang ikut mengonsumsi makanan yang sebelumnya dibawa pulang oleh anak mereka.
“Orang tua memakan dari sisa anak,” ujar Suyono.
Kondisi tersebut juga menjadi bagian yang ditelusuri pemerintah dalam proses penanganan dan pemeriksaan kasus.
22 Orang Dirawat di RSUD Kalisari
Sejumlah warga yang mengalami keluhan kesehatan telah mendapatkan penanganan medis.
Berdasarkan pembaruan data yang disampaikan Suyono, sekitar 22 orang menjalani perawatan di RSUD Kalisari Batang.
Keluhan yang dilaporkan antara lain mual dan pusing. Pemerintah masih memantau perkembangan kondisi para korban.
Fasilitas kesehatan di Kabupaten Batang juga terus dipantau untuk mengantisipasi adanya tambahan warga yang membutuhkan penanganan medis.
Jika kapasitas rumah sakit penuh, pasien dapat diarahkan ke fasilitas kesehatan lain, termasuk puskesmas yang memiliki layanan rawat inap.
“Kalau di Batang semua penuh, tinggal nanti lari ke puskesmas yang rawat inap,” kata Suyono.
Penyebab Belum Dipastikan
Hingga kini, pemerintah belum menyimpulkan penyebab gangguan kesehatan yang dialami ratusan warga tersebut.
Sampel makanan telah diambil untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan nantinya menjadi salah satu dasar untuk memastikan apakah gangguan kesehatan tersebut berkaitan dengan makanan MBG yang dikonsumsi warga.
Sebelumnya, Suyono menyebut menu yang dikonsumsi penerima manfaat antara lain nasi, telur bolognaise, mix sayur, tahu mendoan, dan anggur.
Telur sempat disebut warga sebagai salah satu makanan yang dikonsumsi. Namun, pemerintah belum menyatakan telur maupun menu tertentu sebagai penyebab kejadian tersebut.
Karena itu, sampai hasil pemeriksaan laboratorium keluar, pemerintah masih menggunakan istilah dugaan keracunan MBG.
Distribusi MBG Dihentikan Sementara
Seiring bertambahnya jumlah warga yang mengalami keluhan, distribusi MBG dari SPPG yang bersangkutan dihentikan sementara.
Penghentian dilakukan sembari menunggu hasil pemeriksaan serta evaluasi terhadap pengelolaan SPPG, termasuk penerapan standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan.
Suyono mengatakan pemerintah akan meminta penjelasan dari pihak yang bertanggung jawab terhadap operasional SPPG.
“Ini program negara yang harusnya bagus, tapi tidak dijaga dengan baik,” ujarnya.
Pemerintah, lanjut Suyono, tidak ingin kejadian serupa kembali terjadi. Pengawasan terhadap pengelolaan dan distribusi MBG pun menjadi perhatian dalam penanganan kasus tersebut.
Belum Ditetapkan sebagai KLB
Meski jumlah warga yang tercatat mengalami dugaan gangguan kesehatan telah mencapai 276 orang, pemerintah Kabupaten Batang belum menetapkan kejadian tersebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Menurut Suyono, penetapan KLB membutuhkan pembahasan dan mekanisme tersendiri.
Untuk saat ini, pemerintah masih memprioritaskan pendataan dan verifikasi korban, penanganan medis, serta pemeriksaan sampel untuk mengetahui penyebab kejadian.
Pemerintah juga menegaskan bahwa angka 2.700 penerima manfaat tidak sama dengan jumlah korban. Dari total penerima manfaat tersebut, sebanyak 276 orang tercatat mengalami keluhan berdasarkan data sementara yang masih dapat berubah.
Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai sumber gangguan kesehatan tersebut.
Sampai hasil pemeriksaan keluar, kejadian ini masih disebut sebagai dugaan keracunan setelah konsumsi MBG.













