Oleh: Johan Sopaheluwakan
Faktual.net – Jakarta Barat, DKI Jakarta – Jumat (5/12/2025)
Air mata mengalir bukan hanya duka
tetapi kesaksian kemuliaanmu, Ibu
Tangan yang seharusnya memeluk
kini mengangkat jasadmu dari timbunan longsor
Di puing-puing dan bau lumpur kehancuran
aku temukanmu – bukan terbaring, melainkan bersimpuh
Mukena putihmu utuh, tenang
dalam posisi paling agung seorang hamba: sujud terakhir
Banjir bandang melanda saat kau berdiri di hadapan-Nya
dunia runtuh, tapi kau tetap teguh
menyambut maut di puncak ketaatan
Kau pergi bukan sebagai korban
melainkan Syahidah Sujud – wanita yang pilih Keagungan-Nya
di atas segala kekacauan dunia
Kau ajarku dengan cara terakhirmu:
Sholat adalah benteng, meskipun takdir air bah menghantam
Aku peluk mukena basah berlumpur
dinginnya menyengat, tapi jiwaku merasakan kehangatan abadi
Kehilanganmu adalah penderitaan
namun menyaksikan caramu pergi adalah kehormatan dari-Nya
air mata ini kini menjadi air syukur
Terima kasih, Ibu
Aku akan selalu ingat pesan keimananmu:
Pilihlah Allah, dan Dia akan pilih cara terbaik untuk menjemputmu

















