FAKTUAL.NET – JAKARTA – Di bawah tangan dingin Pdt. Theresia Liow Mambo, 4 noni jelita kawanua melenggang-lenggokan tubuhnya menari di hadapan peserta Refleksi Awal Tahun 2020 Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Indonesia (DPP – PIKI) dengan tema : Indonesia – Quo Vadis yang berlangsung di Gren Melia Hotel, Jakarta, Jumat (31/01/2020) beberapa waktu yang lalu. Dan mereka beruntung karena saat itu disaksikan juga oleh Menteri Sosial Republik Indonesia, Juliari P. Batubara.

Sanggar Rondo adalah Bidang Seni Budaya Kerukunan Keluarga Kawanua (K3) di bawah binaan Irjen Pol. Dr. Ronny Franky Sompie, S.H., M.H dan Bakti Nendra Prawiro, M.Sc, M.H.
Mereka menampilkan Tari Pisok, yaitu burung yang terkenal di Minahasa, sebutan lain untuk burung Gereja. Nama Pisok diambil untuk tari yang dikreasikan dengan makna yang menggambarkan keceriaan, kebersamaan, haromonisasi dan kesatuan. Demikian pesan yang dapat ditangkap dan sangat tepat untuk dapat diterapkan oleh DPP PIKI saat itu.
“Kelompok tari Sanggar Rondo ini berdiri pada tahun 2019, selain penampilan di dalam negeri kami juga sudah berangkat ke Los Angeles, USA dan pada tanggal 5 Pebruari 2020 akan kembali lagi ke Los Angeles,” demikian ungkap Theresia sang pelatih.
Lebih lanjut Theresia mengungkapkan, “Kami memiliki koleksi beberapa tarian daerah, kreasi baru daerah Minasaha dan tari Katrili serta ada juga tari Kabela dari Bolaang Mongondow dan ke depan, selain belajar tarian Minasaha kami juga akan mempelajari dan menampilkan juga tari daerah lain di Indonesia agar lebih lengkap,” tandasnya.
Untuk anggota Tim Seni Budaya Sangar Rondor terdiri dari para pelajar, mahasiswa dan yang sudah bekerja khususnya yang berada di Jakarta yang berusia 19 – 26 tahun. Sistem perekrutan anggota sanggar diambil dari keturunan yang ada sangkut paut dengan Kawanua untuk masuk dalam Sanggar Rondor. Misalnya anggota yang papanya Bugis mamanya Manado, ada juga yang mamanya Jawa papanya Manado atau oma opa berdarah Manado, mereka dibina dan dilatih menari, yang terpenting mereka mencintai kebudayan daerah Minahasa dan Nusantara demikian penjelasan Theresia.
Situasi zaman digital kini, generasi milenial diajak untuk mencintai kebudayan daerah di Indonesia karena itu menjadi jati diri kita. Hal itu kita lakukan, karena Indonesia sangat istimewa, memiliki seni budaya yang begitu kayanya yang tidak dimiliki bangsa lain.
Kebudayan kita menjadi ciri khas. Tentu banyak tantangan, oleh karena itu Kerukunan Keluarga Kawanua (K3) melalui Sanggar Rondor bahkan bekerja keras, bahkan menorobos negara lain seperti Los Angeles, USA untuk memperkenalkan dan mengembangkan Seni Budaya Minahasa.
Theresia mengajak generasi milenal untuk belajar tarian daerah meski di tengah kegiatan sekolah, kuliah bahkan bekerja. Dan ia sangat bersyukur karena mereka mengambil waktu untuk turut mengembangkan seni budaya Minahasa khususnya dan seni budaya di negara tercinta Indonesia pada umumnya. (Johan Sopaheluwakan)
















