Faktual.net, Konawe, Sultra. Hama wereng pada tanaman padi yang tak terkendali saat musim tanam, menjadi beban bagi para petani padi sawah di Desa Trimulya, Kecamatan Onembute, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Selama ini petani di Desa Trimulya membasmi hama wereng menggunakan pestisida kimia, namun harganya cukup mahal dirasakan oleh petani. Kesulitan para petani menjadi kegelisahan, bukan hanya oleh petani itu sendiri, tetapi para penggiat pertanian di Desa Trimulya pun turut merasakannya. Salah satunya adalah Rahmadi Fasilitator Desa Program Rural Empowerment and Agricultural Development Scalling Up Inntiative (READSI), Desa Trimulya, ia prihatin melihat keadaan petani dan kondisi tanaman padi saat padi mulai hijau. Ia lalu mencari jalan keluar bagaimana cara mendapatkan pestisida yang terjangkau. Bersama dengan Kelompok Tani (Poktan) Padi Sawah Program READSI di Desa Trimulya, dan rekan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Trimulya, Lapou, mereka kemudian berdiskusi mencari jalan keluar persoalan yang sering dirasakan petani.
“Kami gelisah dan prihatin melihat kondisi tanaman padi, ini jadi beban petani, tanaman padi yang menjadi andalah Desa Trimulya tidak bisa produksi secara maksimal akibat ancaman hama wereng, lalu saya berdiskusi dengan rekan PPL, tentang keluhan petani akibat gangguan hama wereng itu, harga pestisida kimia sangat mahal dijangkau,” cerita Rahmadi, Senin, (26/01/2021).
Hama wereng yang menyerang tanaman padi itu pun cukup tinggi populasinya, kondisi itu makin tambah sulit, tatkala pestisida kimia untuk membasmi hama wereng, tak terjangkau harganya oleh petani, belum lagi ketersediaan stok tidak selalu ada saat dibutuhkan.
Sampai akhirnya Rahmadi bertemu dengan rekan PPL Kecamatan Onembute, Gede Sumerta yang rupanya telah lama mengaplikasikan pestisida non kimia di lahan sawah miliknya, alias pestisida nabati, yang cara pembuatannya cukup mudah dan terjangkau sumbernya di sekitar lingkungan tempat tinggal.
Demonstrasi pembuatan pestisida nabati itu pun segera disepakati waktunya oleh Kelompok Tani, PPL dan FD. Dipandu oleh PPL Kecamatan Onembute, Gede Sumerta, bertempat di rumah Ketua Poktan Sumber Rejeki I, Burhanudin. Demontrasi kegiatan pembuatan pestisida nabati, disambut antusias oleh tiga Kelompok tani padi sawah Desa Trimulya, yaitu Kelompok tani Sumber Rejeki I, Kelompok tani Subur Jaya dan Kelompok tani Budi Laksana.
“Adapun modal dan bahan untuk membuat pestisida nabati tersebut tidaklah sulit, senantiasa tersedia di lingkungan sekitar tempat tinggal petani, modalnya pun sangat terjangkau,” urai Rahmadi.
Bahan yang dibutuhkan, untuk membuat 10 liter pestisida nabati yaitu, 1 kg daun sirsak, 1 kg daun pepaya yang masih hijau tapi sudah tua, 1 kg daun serai putih, 1 kg bawang putih, 1 kg ubi koro, 1 gelas gula pasir, 1 gelas EM4, 1 kg tembakau, dan 10 liter air. Adapun peralatan yang digunakan yaitu pisau untuk mengiris bahan, ember atau wadah untuk mencampur semua bahan, lalu jerigen sebagai wadah fermentasi ukuran 10 liter atau lebih.
Langkah pembuatannya, yakni mengiris kecil secara kasar semua bahan, yaitu daun sirsak, daun pepaya, daun serai dan ubi koro serta bawang putih, kemudian dicampur dengan tembakau dan gula pasir, simpan didalam ember dan tuangkan air 10 liter, campur EM4 lalu diaduk, sampai tercampur rata. Bila sudah tercampur rata, perlahan masukan kedalam jerigen beserta ampasnya, kemudian difermentasi selama satu sampai dua minggu, atau lebih lama lagi, sebab semakin lama akan semakin bereaksi campurannya.
“Semakin lama disimpan maka akan semakin baik, bereaksi fermentasi campurannya, bahkan bisa disimpan sampai tiga bulan proses fermentasinya,” urai Gede Sumerta dihadapan anggota Poktan Desa Trimulya, saat demontrasi kegiatan pembuatan pestisida nabati Desember lalu.
Pemeliharaan selama proses fermentasi tidaklah sulit, cukup membuka tutup jerigen selama kurang lebih satu menit setiap hari, atau jika kuatir lupa membuka tutupnya maka alternatifnya adalah membuat lubang ukuran satu mili semacam ukuran lubang sedotan pipet pada tutup jerigen. Hal ini dimaksudkan agar jerigen tidak meledak akibat gas yang dihasilkan dari proses fermentasi.
Guna mengetahui hasil fermentasi berhasil, maka akan keluar aroma bau saat tutup jerigen dibuka, warna cairan kuning kecoklatan. Kondisi ini diketahui setelah tujuh hari fermentasi. Hampir dapat dipastikan proses fermentasi berhasil asal terpenuhi seluruh komposisi tiap jenis bahan yang dibutuhkan.
Panen hasil fermentasi pestisida nabati dapat dilakukan pada hari ketujuh dan hari-hari selanjutnya. Adapun cara pengaplikasianya adalah dengan cara mengambil tiga gelas pestisida nabati yang telah disaring, masukan dalam wadah berisi 15 liter air, aduk hingga tercampur, lalu tuang ke tangki penyemprotan atau handsprayer ukuran 15 liter, siap diaplikasikan. Setiap kali akan mengaplikasikan pada tanaman maka lakukan hal yang sama, menyaring tiga gelas dengan campuran 15 liter air, atau saat dibutuhkan penyemprotan barulah menyaring tiga gelas pestisida nabati tersebut.
Pada tanaman padi sebaik, diaplikasikan waktu umur tanaman satu minggu, sebab lebih cepat pengendalian hamanya, maka akan lebih baik mengantisipasi serangan hama wereng. Penyemprotan atau pengaplikasian pada tanaman padi dapat dilakukan dua minggu sekali, sampai umur padi siap panen.
Pestisida nabati ini bersifat mengendalikan alias mengantisipasi datangnya hama wereng, yang tidak suka pada batang yang pahit paska penyemprotan, sementara jika tanaman sudah terserang hama wereng maka dapat berfungsi mematikan hama wereng.
Pestisida nabati ini dapat pula diaplikasikan pada tanaman lain selain padi, misalnya diaplikasikan pada tanaman sayur dan tanaman lainnya.
Adapaun manfaat penggunaan pestisida nabati, adalah tanaman lebih sehat, sebab tidak meninggalkan nilai residu atau racun di tanaman, sementara jika menggunakan pestisida kimia, residu masih akan tertinggal di tanaman, lalu berdampak pada tubuh manusia yang mengonsumsinya. Sementara pestisida nabati lebih aman karena bersifat alami.
Nilai penghematan menggunakan pestisida nabati lebih hemat, dan untung beberapa kali lipat pebandingannya dibanding pestisida kimia, sebab untuk memproduksi 10 liter pestisida nabati dengan jumlah kali penyemprotan sebanyak kurang lebih 30 tangki, mengeluarkan modal kurang lebih Rp.50 ribu rupiah, sementara pestisida nabati ukuran 250 mili liter harus mengeluarkan uang antara Rp. 150 ribu – 250 ribu, namun hanya menghasilkan jumlah kali penyemprotan 12 tangki.
Kini waktu fermentasi festisida nabati buatan Poktan Desa Trimulya, telah melewati masa panen alias kurang lebih tiga minggu, sejak proses pembuatan pada Desember lalu, ini artinya sudah sangat baik untuk diaplikasikan pada tanaman padi di sawah milik mereka.
“Kita mau coba dulu hasil demonstrasi pembuatan pestisida nabati akhir bulan Desember lalu di tanaman padi sawah kami, musim tanam Januari tahun ini,” urai Burhanudin Ketua Poktan Sumber Rejeki I Desa Trimulya.
Kelompok Tani di Desa Trimulya, Kecamatan Onembute, Kabupaten Konawe, merupakan salah dampingan Program READSI, merupakan salah satu program Kementerian Pertaniaan yang bertujuan mendukung visi pembangunan pertanian, yaitu tercapainya kedalautan pangan dan meningkatnya kesejahteraan petani, serta mendukung suksesnya program regenerasi petani. Khusus di Provinsi Sulawesi Tenggara, tiga kabutapaten menjadi daerah program READSI yaitu Kabupaten Kolaka, Kolaka Utara dan Konawe. Salah satu kegiatannya adalah kegiatan pemberdayaan petani, contohnya menemukan inisitif lokal seperti pembuatan pestisida nabati, sebagai solusi permasalahan di bidang pertanian.
Semoga setelah membaca berita ini, para petani antusias membuat pestisida nabati sendiri, sebagai solusi pengganti pestisida kimia. Pestisida nabati lebih sehat dan terjangkau serta tidak menimbulkan efek samping pada manusia karena aman digunakan sampai kapanpun.
Reporter : Wa Ode Deli Yusniati















