Example floating
Example floating
Iklan Ramadhan
Headline

Merekayasa Masa Depan Indonesia

11
×

Merekayasa Masa Depan Indonesia

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Faktual.net – Garut – Rabu, 25 Maret 2026 – Tak dapat dipungkiri bahwa selama lebih dari 10 tahun terakhir, kesenjangan antara “suara rakyat Indonesia” dan “suara pemerintah Indonesia” semakin menganga lebar. Yang dimaksud dengan “pemerintah” adalah para pengambil keputusan di semua lembaga Trias Politica.

Apabila kesenjangan tersebut semakin lebar, maka nilai Indeks Kapabilitas pemerintah dalam mengelola negara akan semakin rendah. Hal ini sesuai dengan kaidah saintifik, khususnya dalam penerapan Q-STEM (Quality Science, Quality Technology, Quality Engineering, Quality Management) dalam pengelolaan negara.

Pasang Iklanmu
iklan 468x60
Pasang Iklanmu

Q-STEM merumuskan Government Capability (GC) sebagai berikut:
GC = A/B (rasio antara “Suara Pemerintah” atau A, terhadap “Suara Rakyat” atau B). Rumusan ini kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk kuantitatif sebagai Capability Index (CI). Dalam manajemen industri, pasar global mengharuskan CI tidak kurang dari 1,33, dengan standar ideal CI = 2 (kualitas tertinggi dalam manajemen proses industri).

JANGAN SALAH BERGURU

Dari perspektif Q-STEM, sejak memasuki abad ke-21 terdapat dua aliran utama dalam upaya merekayasa masa depan sebuah negara agar rakyatnya puas dan negara tersebut disegani dunia. Jika pemerintah bertekad membangun Indonesia menjadi negara maju, perlu ditetapkan terlebih dahulu aliran mana yang akan dijadikan model.

Kedua aliran tersebut adalah:

1. Aliran Amerika Serikat (AS), yang oleh Dan Wang (penulis buku “Breakneck: China’s Quest to Engineer the Future”) disebut sebagai “Lawyer State” (Negara Berbasis Hukum).
2. Aliran Cina, yang disebut sebagai “Engineer State” (Negara Berbasis Rekayasa) (NATURE 651, hlm. 578-580, 2026).

“Lawyer State” mengedepankan legalisme atau kepatuhan terhadap hukum positif, sedangkan “Engineer State” mengedepankan keahlian dan kelincahan dalam rekayasa fisik atau kepatuhan terhadap hukum alam.

Terlepas dari pilihan aliran, permasalahan utama terletak pada peningkatan kualitas berkelanjutan Perguruan Tinggi yang diakui dunia. Hal ini bukan hal baru bagi Indonesia, karena sejarah pendidikan tinggi di negeri ini dimulai dengan pembangunan bidang Rekayasa Fisik (Technische Hogeschool) pada awal abad ke-20, diikuti bidang Ilmu Dasar pasca Perang Dunia II – semuanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan ekonomi dan industri Hindia Belanda.

REKOMENDASI

Sejarah mencatat bahwa pernah ada era di mana perguruan tinggi Indonesia, khususnya di bidang Ilmu Dasar dan Rekayasa Fisik, menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi dan menjadi referensi bagi berbagai negara termasuk Singapura. Namun, pemerintah belum melihat pendidikan tinggi sebagai industri besar penghasil devisa, sehingga saat ini kita jauh tertinggal bahkan dari negara tetangga.

Baca Juga :  H+1 Lebaran, 91.657 Penumpang dan 25.332 Unit Kendaraan Tinggalkan Sumatera menuju Jawa

Mengingat:

1. Ilmu Dasar dan Rekayasa Fisik merupakan ujung tombak untuk bersaing di kancah global, dan
2. Jejak sejarah membuktikan potensi intelektual anak bangsa di kedua bidang tersebut pernah disegani dunia,

Berikut adalah rekomendasi dalam upaya merekayasa masa depan Indonesia:

1. Pegang teguh kaidah saintifik dalam mengelola negara agar rakyat puas. Pencapaian kepuasan dan retensi rakyat adalah tujuan utama setiap pemerintahan.

2. Agar Indonesia disegani dunia, jadikanlah Indonesia sebagai “Hard-Engineer State” – negara yang mengedepankan keahlian dan kelincahan dalam rekayasa fisik serta kepatuhan terhadap hukum alam, diiringi dengan kepatuhan terhadap hukum positif.

3. Lakukan pemantauan berkala terhadap Indeks Kapabilitas Pemerintah.

PENUTUP

Ilmu Dasar dan Rekayasa Fisik adalah dua bidang yang sangat potensial untuk membawa Indonesia menjadi peserta terpandang dalam Global Intellectual Racing (GIR). Sejarah telah membuktikan bahwa kemampuan anak bangsa di kedua bidang tersebut pernah dijadikan referensi berbagai negara. Bahkan pada dekade 1930-an, Technische Hogeschool te Bandung (cikal bakal ITB) telah menjadi universitas kelas dunia (data yang diperlihatkan oleh almarhum Prof. Sahari Besari, mantan Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITB, pada Sidang Senat Akademik ITB).

Sebagai penutup, diharapkan pemerintah segera memberdayakan potensi intelektual anak bangsa di kedua bidang tersebut untuk merekayasa masa depan Indonesia.

Just my 2 cents for the nation. Semoga bermanfaat.

SUMBER

1. Tinjauan Buku
Xiaoyu Zhang (16 Maret 2026). “The real story behind China’s technology triumph”. NATURE 651, 578-580 (2026), doi: https://doi.org/10.1038/d41586-026-00841-0

2. Ringkasan Buku Tahunan
Dan Wang (25 Juli 2025). “Breakneck: China’s Quest to Engineer the Future”. Link: https://danwang.co/breakneck/

Salam dari Garut,
Maman A. Djauhari
(Pensiunan dari ITB tahun 2009)

Catatan Penulis:

1. Penulis artikel “Improved Monitoring of Multivariate Process Variability” yang terbit di Journal of Quality Technology, Amerika Serikat, Januari 2005 (jurnal terkemuka di dunia dalam bidang Q-STEM).

2. Artikel tersebut meraih Gold Medal Award dari ISOSS (Islamic Countries Society of Statistical Sciences) dengan kantor pusat di Lahore pada Desember 2005, dengan penghargaan “for outstanding contribution in statistics”.

3. Konsultan The World Bank dalam bidang Kualitas Data, 2009.

4. Grade-A Professor, Universiti Putra Malaysia, 2014-2016.

(Red/JS)

Tanggapi Berita Ini