oleh

Mengenal Lebih Dekat Sosok Asisten Afdeling 6 Djanuarius A.Lajar

“Mengelola orang banyak itu ada seninya, dibutuhkan pendekatan pribadi dan komitmen tanpa henti untuk mengembangkannya.”

Faktual.Net, Merauke, Papua– Djanuarius A.Lajar dikenal dengan panggilan Adeo Datus telah empat tahun bekerja di perkebunan kelapa sawit di bawah naungan Agrinusa Persada Mulia Sebagai Asisten Afdeling, lahir di Nusa Tenggar Timur, NTT ini bertanggung jawab atas terciptanya kondisi tempat kerja yang aman dan nyaman, selain meminimalisir potensi kecelakaan di lingkungan kerja.

Adeo Datus juga ditugaskan melakukan pengawasan dan pengendalian operasional di lapangan yang mengharuskannya berkoordinasi dengan banyak Karyawan dan mandor/Supervisi.

Namun begitu, hal tersebut tidak membuat sarjana jurusan Budidaya pertanian agro tehknologi Universitas Tanjung Pura Kalimantan Barat ini canggung, meskipun ia adalah satu satunya suku timur NTT dari Enam asisten afdeling yang bertanggung jawab atas 42 blok dengan 4 hamparan yang terpisah dari perkebunan kelapa sawit seluas 875 hektar.

Memulai Pagi dengan Energi Positif
Setiap pagi di setiap harinya, bangun pukul 04:00 WIT untuk mempersiapkan kegiatan apel pagi yang dilaksanakan pukul 05:20 WIB. Apel pagi ini bertujuan untuk memberikan motivasi dan arahan kerja spesifik kepada para Karyawan pekerja dan mandor/Supervisi yang akan turun ke lapangan di hari itu.

Agenda pagi buta tersebut dilanjutkan dengan mendata jumlah tenaga kerja pada hari itu untuk menentukan target minimal produksi yang harus diperoleh seluruh mandor, seraya memastikan bahan yang dibawa sesuai dengan jumlah tenaga kerja, mempersiapkan transportasi yang dibutuhkan untuk mengangkut karyawan ke perkebunan juga masuk ke daftar pekerjaan Adeo Datus, dan terakhir memberikan pengarahan kepada seluruh Karyawannya.

Tidak selesai di situ, Adeo Datus harus turun ke lapangan untuk mengontrol kegiatan karyawan di sana. Salah satu tanggung jawabnya yang terbesar adalah harus mengobservasi kinerja mandor dan pekerja sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan.

“Sepanjang hari saya harus mendatangi setiap lokasi dan memastikan setiap Pekerjaan perGeng berjalan dengan maksimal sehingga setiap Pokok Kelapa Sawit mendapatkan hak hak dan perlakuan yang sama,” ujarnya.

Memasuki sore hari, Adeo Datus masih harus mempersiapkan evaluasi sore yang sangat krusial untuk mendeteksi dan menganalisis kendala yang dihadapi para mandor di lapangan.

Evaluasi sore juga dibuat untuk merencanakan kegiatan esok hari, baik kebutuhan tenaga maupun alat yang digunakan sekaligus mempersiapkan semuanya sebelum menutup hari.

Berbeda dengan karyawan yang bekerja di kantor, berkeliling di area perkebunan mengharuskan Adeo Datus untuk tangguh secara fisik dan mental. Dengan berkendara dari kebun ke kebun menggunakan motor karena menurutnya lebih efektif dan efisien. Tentu saja, semuanya ia jalani dengan penuh semangat dan jauh dari keluhan.

Lingkungan yang Suportif

“Tantangan terbesar bekerja di kebun? Pada saat musim hujan, kita pasti akan mandi lumpur!” candanya sambil tergelak renyah. Nyatanya, Adeo Datus hal itu tidak merasa ada kendala yang membuatnya kesulitan memenuhi tanggung jawabnya sehari-hari.

“Terasa mudah karena semua teman kerja saya dapat diajak diskusi. Setiap pagi sebelum berangkat kerja kami pasti meluangkan waktu beberapa menit untuk ngobrol dan sharing, mereka sudah terasa seperti keluarga,” ungkap yang sudah merantau jauh dari keluarga sejak mengenyam bangku kuliah.

Mengenal sosok Adeo Datus, terpancar jelas bahwa ia sangat mencintai apa yang ia lakukan. Baginya, pekerjaan yang membuatnya harus berani tegas di hadapan banyak mandor dan pekerja kelapa sawit tersebut alih-alih menakutkan malah justru sangat menantang dan memberikan kekuatan.

“Saya tidak canggung apalagi takut, karena saya percaya semua yang saya lakukan bermuara pada kebaikan,” terang Adeo Datus sembari tersenyum.

“Ada rasa puas yang tak tergantikan ketika saya berhasil memastikan seluruh kegiatan berjalan sesuai rencana,” ujarnya.

Belajar dari Cinta Pertama
Sebagai anak Pertama dari empat bersaudara, Adeo Datus telah lama membulatkan tekadnya untuk mandiri secara finansial dan tidak lagi bergantung pada orang tuanya. Motivasi diri dan kepercayaan penuh dari keluarganya menjadi penguat untuknya mencapai tujuan tanpa kenal lelah, bahkan ketika ia harus meninggalkan rumah dan hidup jauh dari keluarga.

“Ketika kuliah, saya sudah tinggal di tempat kos karena keluarga saya semuanya menetap di Desa Kaeng Baung Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur. Saya merantau sendirian,” kenangnya.

Berjuang hidup mandiri, Adeo Datus tidak pernah terlepas dari kuatnya karakter kedua orang tua yang mengajarkannya arti pengorbanan dan perjuangan.

“Ayah dan Ibu saya adalah cinta pertama saya. Ia yang mengajarkan saya untuk mencintai apa yang saya perjuangkan,” tegasnya. Sebagai seorang guru, Kedua Orang tua merupakan sosok yang tegas, protektif namun selalu suportif terhadap setiap keputusan besar yang Adeo Datus ambil atas nama optimalisasi diri.

“Kedua Orang Tua adalah idola saya. Saya tidak akan sampai di sini jika tanpa kepercayaan yang selalu beliau berikan,” ujar Adeo Datus.

Nilai berharga tentang kerja keras yang telah tertanam pada diri Adeo Datus membuatnya enggan membatasi diri untuk berkarya dan bekerja. Ia selalu percaya bahwa kerja kerasnya akan memberikan dampak positif bagi perusahaan, keluarga dan masyarakat sekitar, lebih dari itu semua, bagi perkembangan potensi dirinya.

Biro Papua : Mustapa

 

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :