Faktual.net – Jakarta – Perayaan Natal tidak selalu harus berhenti pada liturgi dan ritual keagamaan. Di tangan komunitas iman yang sadar konteks, Natal justru menjadi ruang perjumpaan antara iman, budaya, dan kemanusiaan. Itulah semangat yang diusung Junaedi Salat Ministry (JSM) dalam perayaan Natal bertajuk “Merry Christmas: Mengenal Allah yang Maha Kuasa” yang digelar pada Sabtu, (24/1/2026), di Gedung GSJA Kenanga, Jakarta Pusat.
Acara yang dibuka dan dipimpin langsung oleh Ps. Daud Leunufna sebagai Worship Leader, sungguh membawa jemaat masuk dalam hadirat Tuhan. Lagu ‘Sembah dan Puji Dia’ di midley denhan ‘Yesus Kami Puja’ menghadirkan suasana penyembahan yang penuh Urapan. “Saya merasakan benar Tuhan hadir dalam ibadah ini. Ibadah natal kali ini berbeda dengan Tahun-tahun sebelumnya. Kuasa Tuhan sangat terasa,” ungkap Daud L.
WL: Ps. Daud Leunufna
Natal JSM tahun ini menghadirkan Pendeta Mell Atock, M.Th sebagai pembicara utama. Dalam perayaan yang dimulai pukul 15.00 WIB tersebut, jemaat diajak kembali memahami makna Natal sebagai peristiwa iman yang mendalam: Allah yang Mahakuasa memilih hadir ke dalam sejarah manusia melalui jalan yang tidak terduga—kelahiran Yesus Kristus dari rahim Maria.
Pdt. Mell Atock, M.Th
Sang Kalimatullah yang menjadi manusia menegaskan pemahaman bahwa Yesus bukan sekadar tokoh religius, melainkan Firman Allah yang menjadi manusia. Sebuah pengakuan iman yang menggarisbawahi bahwa apa yang mustahil menurut ukuran dunia, tidak mustahil bagi Allah. Narasi kelahiran Yesus menjadi tanda kuasa ilahi yang bekerja melampaui logika, namun tetap menghargai kebebasan dan ketaatan manusia.
Dalam khotbah dan refleksi yang disampaikan, Natal dipahami bukan hanya sebagai peristiwa masa lalu, tetapi sebagai undangan bagi umat untuk mengenal Allah secara lebih utuh. Allah yang hadir dalam Natal bukan Allah yang jauh dan abstrak, melainkan Allah yang rela merendahkan diri, masuk ke dalam keterbatasan manusia, dan menyapa dunia melalui kasih.
Perayaan ini juga menonjolkan pendekatan inkulturatif, yakni pelayanan iman yang berakar pada budaya lokal. Lenong Betawi JSM turut memeriahkan acara sebagai ekspresi seni tradisi yang dipadukan dengan pesan-pesan rohani. Kehadiran Lenong Betawi bukan sekadar hiburan, melainkan simbol bahwa budaya lokal dapat menjadi medium pewartaan nilai-nilai iman tanpa kehilangan jati dirinya.

Lenong Betawi JSM
Selain itu, musisi rohani Minggus Tahitoe hadir sebagai bintang tamu, menghadirkan nuansa musik etnik yang sarat penghayatan. Musik dan seni diposisikan sebagai bahasa universal yang menjembatani iman dengan realitas sosial masyarakat.
Founder Junaedi Salat Ministry, Ps. Ely Salat dalam keterangannya menegaskan bahwa setiap budaya adalah milik Tuhan, dan tidak semua orang dipanggil untuk melayani dengan cara yang sama. “Natal mengingatkan kita bahwa Allah bekerja melalui konteks. Melalui budaya, iman menjadi hidup dan dapat dipahami oleh banyak orang,” ujarnya.
Ps. Ely Salat. Ketua PD. JSM
Menurutnya, pelayanan kontekstual bukanlah upaya mengaburkan iman, melainkan cara menghadirkan pesan Injil secara relevan di tengah masyarakat yang majemuk. “Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Tugas umat adalah menjadi saksi-Nya melalui kehidupan sehari-hari, termasuk melalui budaya,” tambahnya. “Saya sangat beryukur karena hari ini tidak hujan padahal sepanjang hari dalam seminggu ini hujan terus. Dan yang hadir pada natal malam ini lebih dari 1000 jemaat,” tutur Ely Salat.
Perayaan Natal JSM ini terbuka untuk jemaat dan masyarakat umum. Acara tersebut menjadi ruang dialog iman yang inklusif, sekaligus pengingat bahwa Natal bukan hanya tentang perayaan, melainkan tentang panggilan untuk menghadirkan kasih, keadilan, dan pengharapan di tengah dunia yang terus berubah.
Foto Bersama Pelayan Tuhan
Melalui pendekatan lintas budaya dan refleksi iman yang mendalam, Natal PD. Junarsi Salat Ministry (JSM) menghadirkan pesan bahwa iman Kristen tidak terpisah dari kehidupan sosial. Justru sebaliknya, iman menemukan maknanya ketika dihidupi, diterjemahkan, dan dibagikan dalam konteks nyata masyarakat. (Red/JS)



















