Laziz Wahdah Bersama Wahdah Peduli Distribusi Bantuan Ke Halsel Gunakan Perahu Motor

33
Relawan Menggunakan Perahu Motor Menuju Titik-Titik Terdampak Gempa Di Halsel.

Faktual.Net, Halsel, Malut. Gempa yang mengguncang Halmahera Selatan (Halsel) pada Senin 15 Juli 2019 lalu berbeda dengan gempa-gempa sebelumnya. Lokasi di daerah tersebut tak mudah. Relawan Laziz Wahdah Islamiyah bersama Wahdah Peduli menggunakan perahu motor dalam upaya mendistribusikan logistik kewilayah terdampak gempa di Halsel.

Medan yang sulit tidak hanya ditempuh lewat jalur darat, akan tetapi laut dan udara pun menjadi beberapa solusi saat ini demi sampainya logistik ke daerah terdampak. Wilayah terjauh, disekat oleh laut yang membentang luas. Untuk sampai disana, membutuhkan perahu motor yang tak sedikit. Sebab, bantuan yang banyak ini harus diangkut dengan cepat ke wilayah paling terluar.

Dari laporan yang diterima, hingga saat ini, enam orang korban meninggal telah teridentifikasi. Lima korban diakibatkan reruntuhan bangunan, sedangkan satu korban meninggal dipengungsian.

Satu korban meninggal dunia, Saima (90), warga Nyonyifi meninggal dunia di pengungsian daerah dataran tinggi di Desa Nyonyifi, Kecamatan Bacan Timur. Nama-nama korban meninggal dunia lainnya pascagempa tersebut yakni Aisyah (54 tahun), asal Desa Ranga-Ranga, Gane Barat Selatan, Aspar Mukmat (20), Desa Gane Dalam, Gane Timur Selatan, Sagaf Girato (50), Desa Yomen, Joronga, Aina Amin (50), Desa Gane Luar Kec. Gane Timur Selatan, danWiji Siang (60), Desa Gane Luar Kecamatan Gane Timur Selatan.

Baca Juga :  Sering Terjadi Kebakaran, Warga Biringbulu Harapkan Pemkab Gowa Adakan Mobil Damkar

Sementara itu, bantuan logistik terus mengalir untuk penanganan darurat baik dari Pemerintah maupun NGO (Non Goverment Organization). BNPB mengirimkan 1 unit helikopter Mi-8 untuk mendistribusikan bantuan, seperti tenda keluarga dan barang lainnya.

Bantuan tenda lain telah disiapkan pengirimannya melalui pesawat Hercules yang tiba pada malam tadi (16/7). Selain pengiriman via udara, BNPB telah mengirimkan dukungan logistik melalui kapal. Bongkar muat dari kapal tanker ke kapal yang lebih kecil telah dilakukan.

Relawan Laziz Wahdah Dan Wahdah Peduli

Sejauh ini Pemerintah Halmahera Selatan telah membentuk pos komando (posko) untuk melakukan penanganan darurat. Dapur umum yang dioperasikan pemerintah daerah (pemda) yang dibantu TNI dan Polri serta NGO FOZ untuk melayani 9 pos pengungsian di Kota Labuha. Pemerintah setempat menetapkan masa tanggap darurat selama 7 hari, terhitung 15 – 21 Juli 2019.

Baca Juga :  AMPAK Menuntut Agus Rahardjo Mundur Dari Jabatannya Sebagai Ketua KPK

Hari Rabu, 17/9/2019 LAZIS Wahdah dan Wahdah Peduli bersama tim Gabungan TNI, POLRI, TAGANA, BNPB dan NGO yang tergabung dalam FOZ melakukan penyisiran dan Assessment ke seluruh area pesisi Kecamatan Gane luar, Gane Dalam dan Gane Barat serta ke Pulau Obi utk selanjutnya memetakan dalam pembagian Distribusi Logistik dan pelayanan Medis untuk para Korban Gempa. Dua kapal motor dikerahkan dalam proses pemetaan titik-titik pelayanan untuk korban gempa Halmahera Selatan.

“Di Halmahera kita sangat kesulitan untuk akses masuk ke pulu-pulau. Jarak yang jauh membutuhkan waktu lama. Jika kita pakai perahu kayu bisa sampai 12 jam. Kalau pake spedd boat bisa capai 4 jam saja,” kata Syukri Turusi, relawan dilokasi.


Red/Muhammad Akbar

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :