Example floating
Example floating
BeritaEdukasi

Inovasi Dosen Polinef: Ubah Limbah Cangkang Pala Fakfak Jadi Briket Bernilai Ekonomi Tinggi

×

Inovasi Dosen Polinef: Ubah Limbah Cangkang Pala Fakfak Jadi Briket Bernilai Ekonomi Tinggi

Sebarkan artikel ini
Ketgam: Proses Edukasi Pemanfaatan Limbah Cangkang Pala
Example 468x60

Faktual.Net, Fakfak, Papua Barat –Kabupaten Fakfak dikenal sebagai salah satu sentra produksi pala terbesar di Indonesia Timur dengan produksi mencapai lebih dari 3.500 ton pada tahun 2022. Namun, di balik kejayaan tersebut, terdapat persoalan limbah cangkang pala yang selama ini hanya dibuang atau dibakar tanpa pengolahan lebih lanjut.

Melihat potensi yang terbuang tersebut, tim dosen dari program studi Agroindustri, Politeknik Negeri Fakfak (Polinef), yang dipimpin oleh Reski Rahman Sriwijaya, menginisiasi program pengabdian masyarakat bertajuk: “Pemanfaatan Limbah Cangkang Pala Untuk Meningkatkan Nilai Tambah Ekonomi Value_Added Innovation”.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Kegiatan yang berlangsung dari Juni hingga Agustus 2025 di Kampung Wagom, Distrik Fakfak Tengah ini, fokus pada pemberdayaan 30 petani pala lokal.

Melalui pendekatan Participatory Rural Appraisal dan Learning by Doing, para petani diajak untuk terlibat langsung dalam proses alih teknologi.

“Selama ini, lebih dari 90% limbah cangkang pala tidak dikelola secara sistematis dan hanya menjadi beban lingkungan,” ujar Reski Rahman Sriwijaya selaku ketua tim pengabdian.

Baca Juga :  Demi Keselamatan Warga, Kelurahan Alliritengae Prioritaskan Peninggian Jalan Antibanjir

“Kami hadir untuk mengubah paradigma tersebut. Dengan teknologi tepat guna yang sederhana, limbah ini bisa menjadi ‘emas hijau’ yang memberikan pendapatan tambahan bagi rumah tangga petani,” kata Reski Rahman, Sabtu (24/01).

Dalam pelatihan tersebut, para petani dibekali keterampilan mengolah cangkang pala menjadi briket sebagai bahan bakar alternatif. Prosesnya meliputi pencacahan, pengeringan menggunakan alat pengering surya, hingga pencetakan briket dengan campuran perekat tapioka. Program ini tidak hanya berhenti pada pelatihan teknis.

Tim Polinef juga memberikan pendampingan selama tiga bulan untuk memastikan terbentuknya unit usaha mikro berbasis kelompok tani yang nantinya akan difasilitasi melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Pemanfaatan limbah ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, di mana sisa produksi dikembalikan menjadi sumber daya baru yang berkelanjutan.

“Keberhasilan ini bukan hanya soal berapa banyak briket yang dihasilkan, tapi tentang bagaimana masyarakat mampu mandiri secara ekonomi dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada di depan mata mereka,” pungkas Reski Rahman Sriwijaya.

Redaksi.

Tanggapi Berita Ini