Example floating
Example floating
Metropolitan

Cara Berpikir agar Tidak Merasa Paling Benar

×

Cara Berpikir agar Tidak Merasa Paling Benar

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Faktual.Net, DKI Jakarta- Anggota Majlis Pendidikan Tinggi dan Litbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, S.U membeberkan alasan mengapa manusia sering merasa paling benar. Menurutnya, manusia zaman sekarang sering mengalami inkonsisten

Inkonsisten yang ia maksud, dalam islam Tuhan adalah yang maha kuasa sebagaimana yang tertulis dalam Asmaul Husna yang berjumlah 99. Namun, di sisi lain manusia juga kerap memaksakan kehendak di atas kuasa manusia lain.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Ia melanjutkan, jika ada seseorang yang menganggap perbuatannya paling benar maka akan memaksa perbuatannya diikuti oleh orang lain. Menurutnya, kuasa atas orang akan melakukan sesuatu adalah kuasa tuhan.

“Seringkali kita mengalami inkonsistensi, jadi satu sisi dalam islam ya tuhan itu maha kuasa menentukan seseorang jadi saleh atau tidak itu kesatuan, di sisi yang lain kita memaksa orang untuk mengikuti, kan itu bertentangan dengan keyakinan kita,”kata Abdul Munir dalam Podcast Aksi Nyata Perindo, Senin (19/12/2022).

Baca Juga :  Kapolres Kepulauan Seribu Gelar Jumat Curhat dan Jaga Jakarta On The Spot di Pulau Harapan, Perkuat Sinergi Jaga Keamanan Wilayah

Ia menyebutkan, sebagai seorang manusia seyogianya harus lebih memfokuskan diri untuk konsisten berbuat kebaikan. Terkait orang lain akan mengikuti kebaikan kita bukan lagi kuasa seorang manusia.

“Mengapa kita tidak komitmen pada kita berbuat baik kepada orang lain, perkara orang lain mengikuti atau tidak itu terserah kepada petunjuk Tuhan,” ujarnya.

“Dengan cara begitu kita aman bergaul dengan semuanya (tanpa merasa paling benar),” tambahnya.

Abdul Munir menambahkan, manusia juga susah untuk mensinergikan kebenaran yang baku dan yang relatif. Ia mencontohkan kitab suci. Kitab suci merupakan kebenaran yang baku dan pemahaman manusia akan kitab suci merupakan kebenaran yang relatif.

“Sementara kita sering kali mensakralkan paham kita karena bersumber dari kitab suci yang sakral, padahal yan sakral hanya kitab suci, pemahaman kita belum tentu,” ucapnya.(Amin)

Tanggapi Berita Ini