
Faktual.Net, Kendari, Sultra — Ketua Departemen Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Halu Oleo (UHO), menyesalkan tindakan represif oknum kepolisian, yang berusaha membubarkan massa aksi dalam mengenang satu tahun tragedi tewasnya Immawan Randi dan Muhammad Yusuf Kardawi, di depan Mapolda Sultra.
Vino mengatakan sesal dengan sikap Polda Sultra yang masih menggunakan cara-cara kekerasan yang membabi buta dalam mengamankan aksi-aksi demonstrasi.
“Sangat disayangkan pihak kepolisian yang memiliki hak dan kewajiban mengayomi dan melindungi masyarakat justru merusak citra pihak kepolisian itu sendiri dengan cara-cara yang arogan dan represif,” ujarnya Minggu (27/09/2020) saat di hubungi via telepon.
Lanjut dia, menunturkan bahwa dalam menjalankan tugas pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, aparat kepolisian harus berlandaskan pada aturan yang berlaku. Semestinya jika aparat kepolisian berpedoman terhadap peraturan tersebut, maka tindakan-tindakan represif seperti yang terjadi di depan Polda Sultra tidak terjadi.
“Kami meminta agar segala tindakan represif kepolisian tidak terjadi lagi kepada mahasiswa maupun rakyat dan meminta agar Kapolri segera mengevaluasi Kapolda Sultra,” ujarnya.
Tak hanya itu, Vino juga menyinggung mengenai helikopter, yang mencoba membubarkan masa aksi dengan cara terbang rendah di udara dan meminta Pihak Polda Sultra memberikan klarifikasinya.
“Kami juga mendesak kepada pihak Polda Sultra agar segera memberikan klarifikasinya kepada publik mengenai helikopter yang berusaha membubarkan masa aksi, dan meminta perkembangan penyelidikan internal Polda oleh bidang Propam Polda Sultra,” tutupnya.
Ketua Departemen BEM Fisip UHO menghimbau kepada pihak Kepolisian agar segera mengusut tuntas kasus yang menewaskan dua mahasiswa Universitas Halu Oleo Randi dan Yusuf.
Reporter: Kariadi





