oleh

Bangkitkan Semangat Budaya Mahasiswa, DPK GMNI Fisip UHO & IMM adakan Lapak Baca

Lapak baca gratis di taman Fisip di depan gedung jurusan sosiologi.

Faktual.Net, Kendari, Sultra – Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) UHO Berkolaborasi dengan Dewan Pengurus Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Fisip UHO, menggelar lapak baca gratis, dan membangun dialegtika kepada mahasiswa baru, di taman Fisip UHO, Selesa, 21/09/2021.

Para pemulung dan penekun ilmu pengetahuan dituntut agar konsisiten dan komitmen dalam berjuang untuk mempertahankan, memelihara dan mengaktualisasikan ilmu dan pengetahuan di tengah gempuran dari arus budaya populer dan globalisasi yang hari ini mereduksi dan membuat hal-hal penting yang mendasar cepat di lupakan. Agar tidak cepat dilupakan perlukan pustaka buku, menulis dan budaya membaca.

Rasmin Ketua DPK GMNI Fisip UHO menjelaskan, di era digital 4.0 ini yang makin canggih yang mengubah sendi-sendi kehidupan apa lagi di sektor pendidikan.
Hal ini juga tidak sedikit kita temukan adanya kapitalisme pendidikan terjadi di dalam kampus yang di mainkan oleh beberapa tenaga pengajar yang hanya mencari keuntungan. Sehingga dengan kejadian tersebut dapat merangsang nalar berpikir untuk tetap kritis terhadap hal-hal yang menyimpang yang itu tidak sesuai dengan tujuan dari pada pendidikan itu sendiri. Perlu adanya respon dengan berbagai teori untuk menganalisis permainan liberalisme dan kapitalisme pendidikan tersebut.

“Hal inilah menjadi penting di tengah kemerosotan bangsa yang di landa berbagai masalah, seharusnya budaya baca juga jangan sampai tergilas oleh arus budaya modernisasi sebab khasiat dari pada membaca buku sangat banyak sekali manfaatnya untuk memperdalam ilmu dan pengetahuan kita,” tandas Rasmin.

Setidak tidaknya itu adalah bekal dan warisan kepada generasi dari pendahulu kita yang menorehkan ide dan gagasanya dalam sebuah tulisan yang melampaui zaman pemikirannya. Hingga dalam ucap seorang tokoh bangsa Founding Father bangsa indonesia Ir. Soekarno bahwa “ Perjuangan saya lebih muda karena melawan penjajah dari pada perjuangan generasi mendatang melawan bangsa sendiri. Dan hari ini telah terjadi bahkan kita saksikan secara seksama bagaimana benturan sesama anak bangsa bahkan dengan elit kekuasaan yang memperebutkan kepentingan itu sendiri. Itulah kelemahan kita dengan kondisi hari ini, tidak menjadikan sejarah sebagai pembelajaran dan hikmah untuk melihat masa depan yang lebih baik.

📷Ketgam: Mahasiswa baru yang sedang memili buku untuk membaca dan kegiatan ini di suport beberapa dosen untuk ditingkatkan budaya baca mahasiswa.

“Namun, meski demikian kita pernah mendapatkan suatu masa zaman keemasan dan pencerahan kepada para intelektual an pemikir tokoh-tokoh terpelajar yang sangat tekun, terbuka dengan kondisi dan keadaan realitas pada masa itu yang sangat mencekam dan sangat tidak manusiawi memperlakukan manusia itu sendiri,” Ucap Rasmin.

Baca Juga :  Komunitas Pintu Literasi Sukses Melaksanakan Bazar dan Dialog Silaturahmi Dengan Pemuda Dataran Tinggi Gowa

Di samping itu juga, tokoh pejuang dan pemikir bangsa indonesia tak pernah meninggalkan catatan-catatan kaki yang sangat penting dalam lembar sejarah untukregenerasi hari ini. Menjadi pertanyaan besar perjuangan dan pengorbanan apa yang telah kita lakukan untuk memberikan dedikasi dan melanjutkan dari pada cita-cita, harapan mereka yang telah lama di nanti-nantikan menuju tatanan masyarakat yang adil dan beradab jika menyentuh dan membaca pikiran-pikiran mereka kita masih anti.

“lantas hari ini kita mau teriak merdeka dan bebas dari penjajahan? Tokoh Founding father kita adalah seorang pemikir yang melampaui zaman dan melintasi generasi seperti Ir. Soekerno, Moh. Hatta , Sultan Syahrir, Jendral Sudirman, Moh. Yamin, Tan Malaka dan beberapa tokoh-tokoh pejuang lainnya, sayangnya tradisi yang telah d wariskan oleh mereka tidak mampu di lanjutkan dengan baik,” kata Rasmin.

Harus akui sadar tidak sadar dan mau tidak mau bahwa mereka adalah orang yang sangat kompoten di berbagai bidang dan segala aspek ilmu pengetahuan sampai pada zaman modernisasi ini.

“Pada kenyataanya bahwa hal itu terjadi karena kita giat merawat peradaban dan bergumul dengan buku-buku sebagai pustaka, labolatorium dan jendela dunia kemajuan sebuah bangsa. Inilah realitasnya bahwa buku sala satu penanda majunya peradaban islam, barat dan peradaban negara-negara lain,” Kata Rasmin.

Tak hanya itu, Jika saja kehidupan saat ini terjadi pada saat kisah dan peristiwa yang di mana untuk menghancurkan sebuah generasi adalah bakarlah buku-bukunya.

“Saya sebagai orang yang cinta dan suka menggeluti buku sangat tertarik dengan ide-ide yang progresif dan revolusioner untuk suatu perubahan besar tatanan sosial dan politik kita. Upaya untuk menumbuhkan budaya baca di masyarakat khususnya kaum muda mahasiswa sebenarnya sudah berbagai sarana dan instrumen untuk mendapatkan bahan-bahan itu seperti buku, memanfaatkan teknologi sebagai sumber informasi. Jika ini terus terawat dan terpelihara dengan baik maka akan muncul kebiasaan membaca yang bisa melahirkan tradisi literasi di berbagai kalangan,” Jelasn Rasmin.

Di Indonesia sendiri di lansir dalam Human Development index (HDI) bahwa indonesia masih jauh berada pada peringkat ke 112 dari 175 negara yang di survei dalam kegiatan budaya baca. Ini menjadi gambaran betapa kualitas dan standar hidup bangsa indonesia masih kurang tersentuh oleh pendidikan dan gencarnya arus modernisasi, globalisasi. sehingga sangat mempengaruhi dari pada generasi itu sendiri.

Baca Juga :  Manivestasi Kepemimpinan Yang Loyal dan Berintegritas, Hippmasangia Gelar Mubes ke-IX

Masi Rasmin, Budaya literasi sangat terbatas sekali akibat pengaruh globalisasi yang mengalir begitu cepat di mana pemuda dan mahasiswa lebih memilih mementingkan kepentingan individualistik dari pada harus membudayakan literasi baca , diskusi dan aksi, di tambah lagi akses buku yang sangat mahal dan terbatas sehingga hal yang akan terjadi adalah kering kerontang dan peradaban pun akhirnya akan hancur.

“Ini sala satu kelemahan suatu bangsa jika pemuda dan generasinya masa melakukan budaya literasi. Padahal kenikmatan membaca buku dan dampaknya itu sangat besar sekali. Setidak tidaknya ada bekal dan pegangan untuk kehidupan mendatang, Kita punya kekayaan ide, gagasan dan intelektual itu sendiri, Ucap Rasmin.

Ditempat yang sama, Immawati nurhaya Sekbid RPK IMM Fisip UHO, menerangkan bahwa literasi adalah kemampuan menulis, membaca dan beraksi. Dalam pandangan Islam surah Al Alaq 96:1 berisi seruan bagi umat Islam untuk membaca, merenungi, dan menghayati ciptaan Tuhan. Di tengah gencarnya aru modernisasi. Seorang Cendekiawan harus memiliki ilmu dengan pengetahuan itu ia bergerak dan beramal. Yang tujuannya untuk membangun peradaban dan kehidupan yang baik di dunia ini. Sebagai mana tugas manusia sebagai khalifah untuk menjaga bumi dari upaya perusakan atas ulah manusia yang zalim.

“Di zaman moderenisasi mahasiswa harus memliki budaya dan candu literasi yang tinggi sebagai bekal untuk bertindak. Karena kemampuan membaca dan menulis sangat diperlukan untuk senjata membangun sikap kritis secara metodologis, progresif, transformatif dan kreatif terhadap berbagai fenomena kehidupan yang mampu menumbuhkan solusi dari berbagai problematika dan mampu menjawab tantangan zaman kedepannya,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, Jika mahasiswa mengalami degradasi budaya literasi, makan akan berdampak besar terhadap bangsa ini, karena generasi hari ini adalah pemimpin masa depan bangsa.

“Kita mahasiswa atau masyarakat ilmiah yang berakal harus terus berjuang dalam lelahnya belajar karena sejatinya dunia ini memang tempat lelah bukan tempat istirahat, dan jangan sampai kita hidup tanpa arah yang jelas untuk itu kita terus harus belajar demi masa depan lebih baik,” tutup Nurhaya.

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :