
Oleh: Ahmad Rafiq
Faktual.Net, Makassar, Sulsel – Dalam melihat kerusakan ekologis yang dihasilkan akibat hubungan manusia dengan alam, Pendekatan ini memberikan arugmentasi utama yang menitikberatkan pada faktor eksternal diantara hubungan manusia dan alam yang dominan mengakibatkan kerusakan ekologis.
Manusia biasa tentu tidak bisa menjalani kehidupan tanpa melibatkan alam di dalamnya. Alam adalah rumah bagi segala makhluk yang hidup dimuka bumi, tempat berpijak dan sumber segala kehidupan.
Alam telah menyediakan banyak fasilitas sebagai penunjang kebutuhan hidup, tapi terkadang makhluk yang hidup diatasnya kufur sehingga dengan semena-mena bertindak tanpa memikirkan dampak yang akan ditimbulkan. Seringnya terjadi bencana alam sebetulnya adalah instrumen alam untuk menegur manusia.
Namun demikian Allah SWT juga melarang manusia untuk membuat kerusakan di muka bumi ini. Kerusakan itu bermakna luas, bukan hanya kerusakan bumi secara fisik, namun juga kerusakan alam semesta beserta isinya (termasuk satwa di dalamnya). Allah telah dengan jelas dan tegas melarang perusakan terhadap bumi dan alam semesta ini dengan berkali-kali menegaskannya di dalam Al-Qur’an agar kita (manusia) tidak membuat kerusakan di muka bumi, karena dari semua makhluk Allah yang dapat membuat kerusakan adalah manusia.
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Q.S. Ar-Rum :41)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia itu sudah dijamin merusak alam akibat perilakunya yang tak peduli dengan lingkungannya.
Maraknya penebangan hutan secara liar untuk membuka lahan baru sebagai lahan garapan dengan dalih mencari kehidupan namun terkadang syahwat eksploitasi merontah-rontah yang berujung pada kerusakan ekosistem yang ada didalamnya karena sikap ketidakpuasan manusia.
Bukan hanya itu, kebiasaan buruk seperti membuang sampah dan penggunaan plastik yang berlebihan adalah salah satu penyebab alam kita murka.
Berbicara tentang sampah memang tak ada ujung-ujung, bagaimana tidak, setiap warung-warung kecil atau ditoko-toko yang kita jumpai tidak luput dari penggunaan plastik yang pada akhirnya menjadi sampah, ini adalah salah satu budaya buruk yang mestinya kita rubah dari sekarang sebab ini akan berpengaruh pada masa depan alam kita.
Seorang Filsuf lingkungan hidup dari Australia Jhon Passmore (1914-2004) ia mengatakan “bahwa ada dua bentuk cara manusia dalam menghadapi alam yang pertama, Despotic View bahwa manusia sebagai diktator sehingga alam diperlakukan alat bagi manusia”.
Yang kedua, “Responsible Dominion View dalam artian manusia memperlakukan alam dengan penuh rasa tanggung jawab sehingga menjaga kelestarian alam”. Kedua padangan ini bersifat Antroposentrik manusialah yang menjadi pusat utama.
Kehadiran manusia harusnya menjadi solusi bukan malah menciptakan masalah baru. Tentunya manusia harus menyadari bahwa manusia hadir dimuka bumi untuk alam sehingga memperlakukan alam dengan sistem berkelanjutan bukan alam hadir untukmu manusia, kalau kita berpandangan seperti itu maka tindakan yang manusia lakukan adalah tindakan eksploitasi.
Dalam menuntaskan problem ekologi maka yang pertama, perlu keterlibatan semua pihak baik pemerintah sebagai pemangku kebijakan maupun masyarakat sebagai objek utama harus mampu bekerjasama.
Pihak pemerintah harus tegas dalam menjalankan amanah konstitusi seperti yang termasuk dalam UU No. 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolahan lingkungan hidup yang telah ditetapkan sehingga tidak sebatas tekstual semata namun juga dalam bentuk manifestasi kontekstual.
Kedua, membuat gerakan atau kelompok-kelompok tertentu yang memiliki kesadaran ekologi, seperti komunitas dan kaum intelektual sebagai midle class penghubung antara high class dan low class, dialah yang berperan aktif dalam mendeklarasikan untuk meminimaslisir penggunaan sampah plastik, menolak keras terhadap tindakan manusia yang merusak alam dan terus mendukung kegiatan yang sifatnya menjaga alam semesta ini agar tetap terawat dan memiliki misi berkelanjutan.
Penulis Adalah: Sekbid RPK Pikom IMM Faperta Universitas Muhammadiyah Makassar.














