Example floating
HumanioraPendidikan

KOMPAK SETARA di Togo Binongko: UI dan Pemda Wakatobi Jadikan Forum Anak Pilot Project

×

KOMPAK SETARA di Togo Binongko: UI dan Pemda Wakatobi Jadikan Forum Anak Pilot Project

Sebarkan artikel ini
Lokakarya forum pemangku kepentingan — Peserta dari pemerintah kecamatan dan desa, sekolah, tenaga kesehatan, aparat keamanan, KUA, kader perempuan, Forum Anak, dan lembaga masyarakat sipil berdiskusi bersama di Aula Kantor Kecamatan, pada Rabu, (21/10/2026).

faktual.net, Wakatobi, Sultra. Kecamatan Togo Binongko ditetapkan sebagai pilot project Forum Anak di Kabupaten Wakatobi. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kabupaten Wakatobi, Arifin, S.Pd., M.M., saat membuka pelatihan stakeholder “KOMPAK SETARA” yang digelar Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), pada Rabu, (21/10/2026).

Menurut Arifin, Forum Anak sebenarnya sudah terbentuk di seluruh kecamatan. Namun, yang sudah berjalan dan mendapat pendampingan baru Forum Anak tingkat kabupaten. Dari delapan kecamatan yang ada, peningkatan kapasitas melalui intervensi ini baru dilakukan di Kecamatan Togo Binongko, sementara kecamatan lain yang sebelumnya sudah ada akan berlanjut. Hal itu diperlukan karena masa keanggotaan anak hanya dua tahun setelah itu tamat, tentu perlu pengurus baru. “Kami tidak ingin hanya datang untuk melatih, tetapi yang terpenting adalah bagaimana pasca-pelatihan dan keberlanjutan Forum Anak ini. Kecamatan Togo Binongko termasuk salah satu yang responsif, komunikatif, dan proaktif, sehingga hari ini ditetapkan sebagai pilot project,” ujarnya.

Kegiatan yang berlangsung dua hari sejak 20 Oktober 2026 itu menyasar tiga kelompok berbeda. Hari pertama, pelatihan bagi Forum Anak dan kelompok perempuan; hari kedua, lokakarya forum pemangku kepentingan. “Kegiatan ini tidak mungkin hanya fokus pada Forum Anak saja, tetapi juga mencakup pencegahan kekerasan dan mitigasi. Forum Anak ini intinya adalah bagaimana mereka menjadi pelopor dan pelapor di antara teman-temannya,” jelas Arifin.

Ia menekankan bahwa pencegahan kekerasan tidak bisa dibebankan pada satu dinas. “Dinas P3A tidak mungkin bekerja sendiri. Ketika terjadi kekerasan, mungkin pertama kali korban bercerita kepada ibunya, kepada tetangga, kepada guru, kepada kader, kepada tenaga kesehatan, kepada tokoh agama, kepada kepala desa, atau bahkan kepada teman sebaya. Artinya siapa pun di antara kita dapat menjadi pintu pertama bagi seorang korban untuk mendapatkan pertolongan,” katanya.

Karena itu, ia meminta agar pintu pertama itu tidak justru menjadi tempat korban ditolak, dihakimi, atau disalahkan. “Korban harus mendapatkan rasa aman, didengar, dihormati, dan diarahkan kepada layanan yang tepat. Inilah pentingnya jejaring dan kolaborasi,” tegas Arifin.

Dalam sambutannya, Arifin merinci peran tiap pihak yang hadir. “Dari Kementerian Agama, bagaimana upayanya mencegah pernikahan di bawah umur. Dari Dinas Pendidikan, bagaimana caranya supaya tidak terjadi bullying atau kekerasan di sekolah, dan bagaimana menjadikan sekolah ramah anak. Demikian juga Puskesmas yang harus menjadi puskesmas ramah anak, serta Polsek yang berkaitan dengan layanan hukum dan perlindungan,” paparnya.

Ia juga menegaskan bahwa pencegahan harus dimulai sebelum kekerasan terjadi dengan mengenali tanda-tandanya sejak dini, membangun komunikasi yang baik di keluarga, menciptakan lingkungan sekolah yang aman, membangun desa yang peduli terhadap perempuan dan anak, serta memiliki sistem rujukan yang jelas ketika sebuah kasus terjadi.

“Pelatihan boleh selesai, tetapi gerakannya jangan berhenti. Pengetahuan yang kita dapatkan hari ini harus diterjemahkan menjadi tindakan di lapangan,” pesan Alumni Magister Unisula tersebut.

Baca Juga :  KOMPAK SETARA Perkuat Peran Komunitas dalam Melindungi Perempuan dan Anak di Kecamatan Togo Binongko
Sesi Foto Bersama

Di tempat yang sama, Dr. Dra. Sri Murni, M.Kes, yang mewakili Direktur Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia (DPIS UI) didampingi Aska Asbina Yugi, A.Md, menuturkan bahwa kerja sama UI dengan Kabupaten Wakatobi sudah terjalin sejak tahun sebelumnya. “Tahun lalu Universitas Indonesia sudah kerja sama dengan Kabupaten Wakatobi secara keseluruhan. Pak Bupati juga sempat datang ke Universitas Indonesia untuk menandatangani perjanjian kerja sama,” ujarnya.

Pada 2025, tim UI menjalankan pengabdian dengan pendekatan berbeda pelatihan berbasis gambar yang meminta anak-anak menggambar, lalu gambar tersebut dianalisis. “Tahun ini kami mencoba fokus pada gender, kekerasan seksual, serta kekerasan terhadap perempuan dan anak,” jelas Sri Murni.

Pemilihan Togo Binongko, katanya, lahir dari diskusi lanjutan tim. “Wakatobi itu punya banyak pulau. Kami ambil yang paling jauh, karena biasanya orang kalau ke Wakatobi itu cuma Wangi-Wangi dan sudah merasa sudah ke Wakatobi, padahal masih ada pulau jauh yang tidak pernah didatangi. Akhirnya kami bilang, ini tantangan buat kami,” tutur Dosen Antropologi UI tersebut.

Bagi Sri Murni, pelatihan hanyalah pintu masuk. Tim juga turun ke lapangan menggali potensi warga—dari penenun dengan motif adat Binongko, Anyamantika, hingga pandai besi. “Itu sebenarnya potensi yang mungkin bisa kami cari program supaya mereka lebih terangkat, walaupun kita tahu mereka sudah mandiri,” katanya. Potensi wisata seperti Suapa dan Taman Batu juga menjadi perhatian, dengan harapan bisa naik dari destinasi lokal menjadi nasional hingga internasional.

“Kalau Togo Binongko berhasil, bisa tidak Wangi-Wangi, Tomia, Kaledupa mencetak apa yang sudah dilakukan kader-kader Togo Binongko. Kalau itu berhasil, kami merasa itu juga berhasil. Artinya warga dan Bupati Wakatobi tidak hanya bergantung pada UI, tapi mulai juga bergerak sendiri,” tegas Sri Murni.

Senada, Camat Togo Binongko, Hj. Nurmida, SKM, menyambut baik pelatihan ini. “Kami berharap pelatihan ini memperkuat kepedulian dan keterlibatan forum anak, kelompok perempuan dan warga masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak,” katanya.

Kepala Bidang Perlindungan Anak dan Pemenuhan Hak Anak DP3A Kabupaten Wakatobi, Wa Ode Sukmawati, SKM, menegaskan bahwa tindak lanjut kegiatan tidak berhenti pada pelatihan. “Tindak lanjut dari kegiatan akan dilakukan evaluasi pasca-pelatihan hari ini. Ke depan akan terus dipantau, dilakukan monitoring, dan akan ada pelatihan lagi dalam bentuk komunitas yang sama tetapi orang yang berbeda,” ujarnya.

Untuk diketahui, KOMPAK SETARA merupakan program pengabdian dan pemberdayaan masyarakat Tim FISIP UI yang berfokus pada penguatan peran komunitas dan pemangku kepentingan dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kecamatan Togo Binongko, Kabupaten Wakatobi. Program ini dilaksanakan melalui Hibah Penugasan Pengabdian Masyarakat dari Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia, diketuai Reni Kartikawati, S.Sos., M.Krim, bersama Dr. Diana Teresa Pakasi, M.Si.

Reporter: La Ode Haeruddin

Tanggapi Berita Ini