Faktual.net -GBI SANGKAKALA — Kranggan, Bekasi – Minggu, 14 September 2026 — Firman Tuhan yang mengguncang hati jemaat disampaikan Pdt Yohanes Sihombing dalam ibadah Minggu pagi, pukul 11.00 WIB, di GBI Sangkakala, Kranggan Bekasi. Dengan tegas dan penuh kuasa, beliau menegaskan satu hal yang paling mendasar dan sering terlupakan: Mengampuni bukan pilihan, melainkan syarat mutlak untuk diampuni Tuhan.
Dipandu oleh WL Moren Montiana, ibadah ini menjadi momen pertobatan dan pemulihan bagi seluruh jemaat. Pdt Yohanes membuka dengan pesan mendalam: “Manusia berharga di mata Tuhan. Tapi yang paling menyentuh hati Tuhan bukan pengorbanan besar, bukan pelayanan hebat — melainkan hati yang mau mengampuni.”
SORGA TERTUTUP BAGI YANG TIDAK MENGAMPUNI
Mengambil dasar Matius 6:9–13, khususnya ayat 12 — “Dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” — Pdt Yohanes menekankan bahwa syarat diampuni Tuhan sangat jelas: Kita mengampuni, maka Tuhan mengampuni. Tidak ada jalan pintas, tidak ada pengecualian.
“Sorga terkunci bagi yang tidak mengampuni. Bisa datang ibadah setiap Minggu, bisa memberi persembahan besar, bisa berdoa lama — kalau hati masih memegang dendam, luka, dan kebencian, persembahan itu ditolak Tuhan,” tegas beliau.
Mengutip Matius 5:23–24, Pdt Yohanes mengingatkan: “Kalau engkau membawa persembahan ke mezbah lalu teringat saudara bersalah kepadamu — tinggalkan persembahan itu, berdamai dahulu dengan saudaramu, baru datang persembahkan.” Persembahan terbaik bukan uang, bukan nyanyian, melainkan hati yang berdamai dan saling mengampuni.
YESUS MENGAMPUNI KITA MELALUI DARAH-NYA
Pdt Yohanes mengajak jemaat melihat kasih Yesus: “Kita disakiti, tapi Yesus disakiti jauh lebih berat — dipukul, dicambukkan, disalibkan — dan Ia tetap berkata: ‘Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.’ Kalau Ia yang berkorban darah-Nya saja mau mengampuni, mana mungkin kita yang menerima kasih-Nya tidak mau mengampuni sesama?”
Pengampunan bukan perasaan, melainkan keputusan iman. Roh pengampunan yang tidak dibangun di hati akan selalu memunculkan perasaan negatif, sakit hati, dan dendam. Seperti tubuh butuh pelindung agar tidak tergores — hati butuh pengampunan sebagai pelindung anti-gores.
GESEKAN DI GEREJA WAJAR, YANG PENTING DIPULIHKAN
Beliau juga membahas realita kehidupan: “Tidak ada pohon yang dekat tidak pernah bergesekan. Jemaat, keluarga, suami-istri — wajar kalau ada gesekan. Yang tidak wajar adalah ketika gesekan itu dibiarkan menjadi luka yang tidak diobati.”
Banyak orang pindah gereja karena masalah yang tidak diselesaikan dengan pengampunan. Padahal Yesus adalah Gembala yang sama di mana pun kita berada. Masalah tidak lari dengan pindah tempat — masalah selesai ketika kita belajar mengampuni.
JANGAN WARISKAN KEPAHITAN KEPADA ANAK CUCU
Pesan paling menyentuh datang soal keluarga dan keturunan: “Jangan tanamkan kepahitan yang akan melahirkan luka di keluarga. Jangan kasar kepada suami-istri, jangan meninggikan suara di depan anak-anak. Kalau tidak mengampuni, akar pahit itu tumbuh dan keturunannya — anak, cucu, sampai tiga generasi — akan menanggung akibatnya.”
Sebaliknya, hati yang mau mengampuni mendatangkan berkat yang mengalir turun-temurun. Pengampunan adalah warisan terindah yang bisa kita berikan kepada keturunan.
TIDAK MENGAMPUNI = TETAP DALAM KEGELAPAN
Dengan tegas Pdt Yohanes menutup dengan peringatan dari 1 Yohanes 3:15: “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada pembunuh yang memperoleh hidup kekal di dalam dirinya.”
Tidak mengampuni = tetap dalam kegelapan. Tidak masuk sorga. Tuhan tidak mengampuni kita kalau kita tidak mengampuni sesama. Ini bukan ancaman — ini kasih Tuhan yang memberi jalan supaya kita selamat dan hidup damai.”
Di akhir ibadah, banyak jemaat yang bertobat, saling memeluk, dan memaafkan satu sama lain. Momen itu menjadi bukti: Hati yang mengampuni adalah hati yang Tuhan perhatikan dan berkatinya.
Reporter: Johan Sopaheluwakan















