Faktual.Net, Jakarta Utara, DKI Jakarta-Dani Sapawie, alumni SMPN 95, lulus tahun 1984 membuat tulisan menjelang Musyawarah Besar (MUBES) ke-1 ikatan alumni Sembilan lima. Dani menulis lebih kurang 10 hari kedepan alumni SMP Negeri 95 Jakarta, tepatnya tanggal 29 Oktober 2023, bertempat di Balai Yos Sudarso, Kantor Wali Kota Jakarta Utara.
Para alumni SMPN 95 Jakarta akan melaksanakan Musyawarah Besar (Mubes) ke-I, dalam Mubes yang akan datang para alumni SMPN 95 akan memilih ketua alumninya (saat ini sudah ada 3 kandidat).
Dimana sebelum MUBES dilaksanakan, terlebih dahulu para alumni melalui panitia melakukan proses menjaring calon ketua umumnya.
Mochammad Dimyati, ketua OC Mubes ke-I mengharapkan melalui Mubes ikaseli semua kegiatan per-alumnian dapat lebih terarah, terorganisir dan lebih efisien, dengan demikian dalam kaitan bersinergi dengan almamater dapat berlangsung dgn baik dan lebih bermanfaat.
Begitupun menurut Lenita Sari Dewi, selaku sekertaris sangat menekankan para alumni dapat melaksanakan proses pemilihan dengan tertib, meriah dan terarah, semua dituangkan dalam tata Tertib (Tatib), yang sudah dibuat oleh Panitia, bahkan Lenita Sari Dewi biasa disebut ilen sampai beberapa kali mengingatkan para kandidat dan tim suksesnya untuk berpedoman pada tatip.
“Ada sebuah Legenda yang sangat baik untuk menjadi perenungan dan pelajaran bagi alumni didalam fitrahnya baik sebagai manusia pada umumnya maupun sebagai alumni dari sebuah sekolah pada khususnya,”ujar Dani, melalui pesan tertulisnya, Rabu (18/10/2023).
Legenda itu yakni JUGI TAPA, sebuah legenda masyarakat Sawang di Aceh Utara.
JUGI TAPA bercerita tentang seorang murid yang durhaka pada gurunya, tentang murid yang tidak Amanah.
Alkisah di jaman dahulu kala di Sawang Aceh Utara ada seorang Guru Bernama Teungku Di Lhok Drien. Teungku mempunyai murid yang pintar dan cerdas, yang dijuluki Malem Muda, yang mengandung arti orang yang berilmu di usia muda.
Singkat cerita Malem Muda ditugaskan Gurunya untuk mengantarkan sebuah bungkusan tertutup rapat, saat ini mungkin sejenis amplop, karena kitab-tiba jaman dulu berbentuk transkrip bungkusan/amlpop itu berisikan kitab milik sahabat Teungku di daerah lain yang sangat jauh.
Malem Muda di pesan oleh Gurunya Teungku agar jangan membuka isi amplop, serahkan saja amplop ini bila kamu sampai nanti.
Dalam perjalanan yang dilalui berhari-hari rupayanya Malem Muda timbul rasa penasaran untuk membuka isi amplop itu dan mengetahui isi kitab yang akan dikembalikan, rupanya rasa penasaran membuat Malem Muda membuka amplop itu.
Malem Muda sudah membuka amplop dan isi kitab, Malem Muda sudah mulai lalai pada amanat gurunya, dibuka amplopnya dan dipelajari isi kitabnya oleh Malem Muda.
Rupanya dengan membaca kitab itu perjalanan yang mestinya anggap dilalui selama 10 hari menjadi hanya 5 hari oleh Malem Muda, amplop diserahkan pada Sahabat Teungku dan dengan waktu singkat Malem Muda sudah sampai Kembali ke Gurunya Teungku Di Lhok Drien.
Teungku bertanya apa kamu membuka amplop itu, Malem Muda jawab tidak sama sekali mendengar jawaban Malem Muda, Teungku tahu muridnya sudah berbohong, krn Teungku tahu perjalanan Pergi Pulang semestinya dilalui selama 20 hari tapi Malem Muda sudah Kembali dalam waktu 10 hari, itu artinya Malem Muda sudah membuka dan membaca Kitab dalam amplop.
Dan yang lebih parah Malem Muda dengan mempelajari kitab dalam amplop dia bisa merubah wujudnya menjadi apa saja, hingga suatu hari Malem Muda melakukan hal yang sangat Durhaka pada Gurunya dgn menganggu istri Teungku yang sangat cantik.
Teungku dan Istrinya pergi menghilang jauh meninggalkan Malem Muda. Teungku dan istri pergi karena malu dan menyesal mempunyai murid yang Durhaka, sebab Durhakanya Malem Muda pada Guru nya Malem Muda diberi julukan JUGI.
Singkat cerita Malem Muda dgn ilmunya yang dipelajari dari Kitab, Malem Muda menjadi Raja yang Zhalim, memerintah sewenang wenang.
Malem Muda disebut JUGI TAPA yaitu murid yang yang Durhaka dan tidak menjalani tapa, Malem Muda tidak menjalani proses Tapa sebagaimana tahapan belajar dimasa itu, hal ini karena pintarnya Malam Muda, Malem Muda semacam menskip satu step proses belajar.
Mungkin sebab ilmu yang tidak berkah terlebih durhaka pada guru, maka ketika menjadi orang besar atau pemimpin, tumbuh menjadi pemimpin yang zhalim.
Kisah si murid yang Durhaka cukup saja sampai disini, cukup sampai penekanan pada pesan moral yang ingin disampaikan dari cerita JUGI TAPA.
Karena kisah selanjutnya bercerita tentang kezhaliman Jugi Tapa sampai akhirnya Jugi Tapa atau Malem Muda merampas istri Raja Banta dari Kerajaan Kuala Dua di daerah Krueng Mane, istri Raja Banta yakni Nyak Ni dijadikan istri ke 100 oleh Jugi Tapa.
Jugi Tapa meninggal ditangan Pangeran Banta Muda, anak kandung Nyak Ni putra Raja Banta yang dibunuh dan dijadikan Batu oleh Jugi Tapa.
“Pesan moral yang ingin disampaikan dari cerita diatas yaitu, bahwa ilmu itu harus dipelajari dan ditempuh dengan keikhlasan dan dengan niatan yang baik, agar outputnya pun menjadi baik ilmu, tentulah tidak akan menjadi keberkahan bila dengan ilmunya lebih banyak kemudharatan yang dimunculkannya atau dilakukan.
Kepada guru dan sekolah, para alumni yang telah di didik dengan penuh keikhlasan sejogjanya bisa memberikan balas jasa yang baik pada guru-guru, bentuk balas jasa tidak mesti dalam bentuk barang-barang mahal tapi dengan hanya menghormati, menyanyangi dan bahkan menyenangkan hatinya saja itu sudah lebih dari cukup buat seorang guru,”pungkasnya.
Kisah JUGI TAPA, lebih jauh ia menjelaskan, dapat menjadi pelajaran besar apa dampaknya jika murid durhaka pada guru.
Durhaka macam-macam bentuknya, bisa dengan melukai hati Guru baik dengan tidak disengaja apalagi dengan sengaja.
Hendaklah kita dapat mengambil Ibroh/pelajaran, pegangan hidup buat kita semua, dari kisah JUGI TAPA, karena selama hayat masih dikandung badan, selama itu pula kita masih disebut Murid.
“Murid yang senantiasa mesti terus belajar dan selalu menghormati gurunya.
Dengan Musyawarah Besar Ikatan Alumni Sembilan Lima (Ikaseli).
Alumni SMPN 95, semoga melahirkan alumni-alumni yang baik, alumni yang mendedikasikan diri untuk kemajuan sekolah almamaternya dan alumni yang senantiasa mencintai, menghormati dan menyanyangi para gurunya.
Selamat MUBES alumni SMPN 95 Jakarta. MUBES Ikaseli melahirkan alumni yang ber-akhlak kharimah (akhlak yang baik dan terpuji),”tambahnya.
(Amin)















