Perang Asimetris & Keresahan Di Perkotaan

109

Opini Ditilis Oleh: Jacob Ereste

Faktual.Net, Jakarta. Perang asimetris bisa dipahami sebagai upaya untuk menguasai bangsa dan negara Indonesia dalam bentuk pengendalian yang sepenuhnya diinginkan oleh bangsa asing atas kedaulatan, kemandirian serta kepribadian milik kita agar tidak berfungsi serta tidak berdaya bagi bangsa dan negara Indonsia. Karena itu jelas perang asimetris yang dilancarkan pihak asing itu untuk melumpuhkan hingga kemudian menguasai sepenuhnya apa yang kita miliki untuk kemudian bisa sepenuhnya mereka kuasai dan mereka kenralikan.

Sifat kepemilikan dari kedaulatan, kemandirian serta kepribadian milik kita yang hendak mereka kuasai itu bisa saja tidak secara formal dan legal, karena yang penting bagi mereka adalah melumpahkan segenap fungsi dan peran kita untuk mengatur dan menata diri kita sendiri hingga tidak berdaya dan tak mempunyai arti apa-apa bagi warga bangsa dan begara kita.

Perang asimetris adalah peperangan yang memiliki spektrum luas, meliputi astagatra (delapan aspek kehidupan) geografi, demokrafi serta sumber daya manusia maupun sumber daya alam kita. Karena itu perang asimetris melitasi semua wiliyah, mulai dari politik, ekonomi, budaya dan agama hingga teknologi, komunikasi dan informasi. Maka itu prakteknya dapat terjadi dalam skala global (internasional), regional, nasional dan lokal.

Langgam dari perang asimetris yang dominan hendak membuat melumpuh kekuatan lawan tanpa harus berbentuk fisik, karena yang lebih utama wujudnya adalah mental, moral, spiritual dan kecerdasan intelektual hingga ragam gaya hidup yang sekiranya dapat melemahkan daya tahan dalam semua bentuk kekuatan kita yang ada. Oleh karena itu, sumber daya manusia merupakan yang utama menjadi rebutan untuk dilemahkan dan ditaklukkan, untuk kemudian hendak dikuasai sepenuhnya.

Baca Juga :  Tanpa Oposisi??? Itu Juga Demokrasi Yang Cantik

Fenomena dari hasrat suatu negara yang demikian ambisi hendak menguasai nagara kita jelas sekali dari grilya bangsa asing itu dengan cara memasok barang dan orang yang didatangkan ke negeri kita secara formal maupun illegal pada akhir belakangan ini seperti dalam satu paket investasi. Mulai dari kepemilikan lahan hingga lapangan kerja, semakin tampak dominan telah menyingkirkan hak-hak pribumi yang sepatutnya mendapat pelindungan dari pemerintah, seperti tekad dan cita-cita dari kemerdekaan bangsa Indonesia yang tegas dan jelas tercantum dalam UUD 1945.

Cara yang paling ampuh bagi kita untuk melawan perang asimetris yang dilancarkan pihak asing ini agaknya dapat dilakukan bersama segenap warga bangsa Indonesia dengan segera membangun kekuatan yang memperkokoh pertahanan dan ketahanan budaya bersama rakyat. Kaum tani dan buruh serta kaum pedagang bisa nenjadi garda terdepan sebagai penghadang sekaligus menjadi semacam ujung tombak untuk menghalau cara kerja dari para pelaku perang asimetris yang mereka lakukan di rumah, di ladang dan di kampung leluhur kita pada hari ini.

Gerakan nyata pemberdayaan kaum petani, buruh nelayan dan pedagang dapat dilakukan dengan cara memaksimalkan produksi pangan kita sendiri agar dapat segera terbebas dari impor produk dari negeri orang. Demikian juga dengan produk barang impor lainnya harus secepatnya bisa dihentikan agar kebangkitan rakyat dapat segera mengkonsumsi atau memakai barang produksi anak bangsa sendiri.

Baca Juga :  Tanpa Oposisi??? Itu Juga Demokrasi Yang Cantik

Strategi budaya ini dipilih dengan mengutamakan kaum petani, buruh dan nelayan serta kaum pedagang, kerena mereka merupakan soko guru bangsa yang sejati. Selain untuk dapat membebaskan diri dari ketergantungan dari barang dan pangan impor, kaum petani buruh, nelayan serta kaum pedagang kita relatif memiliki tingkat kesadaran nasionalis yang tinggi dan tidak mempunyai pretensi politik atau kekuasaan.

Kecuali itu, kaum petani, nuruh, nelayan dan kaum pedagang dalam bilangan kuantitatif sungguh sangat potensial untuk menjadi mesin penggerak. Atau bahkan sebagai lokomotif revolusi budaya di negeri kita. Jadi masalahnya tinggal mau atau tidak pemerintah memfasilitasi cita-cita luhur bangsa Indonesia untuk sepenuhnya berdaulat, murni mandiri dan berkepribadian mulia.

Swasembada pangan sungguh bisa kita lakukan tak cuma seperti pasa masa Orde Baru. Masa jaya bangsa kita bisa dicapai kembali seperti saat rempah-rempah jadi unggulan dan primadona dunia. Dalam konteks inilah, seruan kepada kaum buruh kita yang terlanjur membanjiri kota-kota besar makin relrvan kembali ke desa. Sebab basis dari pertahanan dan ketahanan budaya kita yang tangguh sejatinya ada di desa. Coba renungkan, bila semua orang yang mudik lebaran misalnya tidak lagi kembali ke kota, mungkin saja Ibukota Negara kita tidak akan merasa gerah ingin juga pindah.

Penulis Adalah Seorang Redaktur Eksekutif Di BSINEWS>COM

Jakarta, 17 Mei 2019

(Opini Ini Diluar Tanggungjawab Redaksi)

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :