Kisruh Pemilihan Pemimpin Akan Terus Terjadi Di Sistem Demokrasi

36
Ulfah Sari Sakti,S.Pi (Jurnalis Muslimah Kendari)

Faktual.Net, Kendari, Sultra. Kisruh Pemilu khususnya Pemilihan Presiden (Pilpres) mulai dari pentahapan, pelaksanaan hingga hasil tidak hanya terjadi pada Pilpres tahun 2019 ini, tetapi terus terjadi pada Pemilu-Pemilu sebelumnya.  Sebagai seorang muslimah yang masih terus belajar ilmu agama, menurut saya semua hal itu terjadi karena sistem pemerintahan yang dianut saat ini yaitu Demokrasi-Kapitalis-Sekuler bersumber dari pemikiran manusia, bukan menganut sistem pemerintahan Islam yang bersumber dari Al Quran dan As Sunnah.

Kita sadari bersama bahwa segala sesuatu yang bersumber dari pemikiran manusia, tentunya masih memerlukan uji coba dan sifatnya tidak pasti alias menyesuaikan situasi dan kondisi (Sikon), berbeda dengan segala sesuatu yang bersumber dari sang pencipta (Allah swt) yang tentunya tetap sesuai dengan zaman, karena hal-hal yang akan terjadi pada zaman yang akan datang telah tersurat dan tersirat dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Demikian pula dengan tata cara pemilihan pemimpin, yang dalam Islam disebut khalifah yaitu melalui cara pembaiatan.  Yang mana syarat menjadi khalifah dalam negara (Daulah) Islam pun telah diatur.  Tetapi inti dari semuanya itu adalah menjadi seorang khalifah dengan niat semata-mata mencari ridha Allah swt, sehingga apa pun yang dilakukan khalifah baik yang diawasi oleh rakyat atau pun tidak, tetap bernilai ibadah yang tentunya membawa manfaat untuk semua rakyat.  Disinilah letak perbedaan dengan sistem selain Islam, yang hanya melandaskan setiap upaya yang dilakukan pada asas manfaat semata serta memisahkan agama dari rutinitas berbangsa dan bernegara, sehingga tidak mengherankan jika yang terjadi yaitu “materi” diatas segala-galanya.

Baca Juga :  Drama MRT dan "Undertable Transaction

Coba kita tengok Pilpres tahun 2019 ini, selain memakan korban meninggal dan sakit dari para petugas pelaksana Pemilu (KPPS), juga memakan korban jiwa dan luka dari masyarakat pengunjuk rasa serta aparat keamanan, pasca pengumuman hasil Pemilu tepatnya kerusuhan 21 dan 22 Mei 2019 di sekitaran kantor Bawaslu RI.  Menurut hemat saya, kerusuhan 21 dan 22 Mei 2019 tersebut terjadi karena rakyat merasa bahwa Pemilu Pilpres yang telah dilaksanakan tidak sesuai asasnya yaitu LUBER dan Jurdil.  Tetapi apa pun alasannya, lagi-lagi itu terjadi karena sistem pemerintahan yang dianut oleh negara kita.

Baca Juga : Anis Baswedan Temui Gubernur Sulteng, Ini Tujuannya

Situs suara.com (24/5/2019) merilis kerusuhan yang terjadi sepanjang 21 dan 22 Mei 2019 tercatat terdapat 8 orang meninggal dunia serta 730 orang luka-luka. “Korban yang meninggal jumlah terbarunya adalah 8 orang.  Ini untuk menangkis kesimpangsiuran berita yang menyebutkan ada banyak sekali korban yang meninggal,” kata Gubernur DKI Jakarta, Anies di Jakrta, Kamis (23/5/2019).

Selain korban jiwa dan luka-luka, kerusuhan 21 dan 22 Mei 2019 telah merusak gedung Bawaslu RI dan fasilitas umum.  Berdasarkan pantauan suara.com pada Kamis (23/5/2019) sekitar pukul 14.25 WIB, terlihat sisa-sisa bangunan gedung yang terbakar akibat lempara bom molotov.  Sejumlah bangunan pun terlihat hancur akibat lemparan batu.  Selain itu, ATM BRI yang berada persis di dekat gerbang pintu samping Kantor Bawaslu RI pun turut hancur.  Sejumlah titik jalur hijau pun mengalami kerusakan.  Selain itu kendaraan polisi, warga dan motor wartawan turut dibakar massa.

Baca Juga :  Tanpa Oposisi??? Itu Juga Demokrasi Yang Cantik
Kembali ke Sistem Islam

            Fakta kisruh Pemilu Pilpres dari lima tahun sebelumnya ke lima tahun berikutnya, tentunya membuat pembelajaran serta perenungan tersendiri bagi segenap komponen bangsa tentang apa sebenarnya yang salah dengan sistem pemerintahan negara kita saat ini.  Apalagi negara kita telah berusia 73 tahun, usia yang seharusnya telah mapan untuk mensejahterakan rakyatnya dengan segala sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang dimiliki.

Disisi lain, ingatlah fakta sejarah bahwa tauhid adalah kunci kejayaan Islam berawal dari diutusnya Rasulullah Muhammad saw hingga zaman kekhalifahan.  QS An Nur : 55,” Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang  yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.  Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.  Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”.

Dengan terdapatnya tauhid yang kuat dalam diri seorang muslim dan keyakinan yang kuat untuk menerapkan sistem Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Insya Allah kejayaan Islam akan kembali terulang dimuka bumi ini.  Wallahu’alam bishowab.

Penulis Adalah Jurnalis Muslimah Kendari

(Opini Diluar Tanggungjawab Redaksi)

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :