Di Dua Kota Utama Indonesia Gerakan Nasional Anti Islamofobia (GNAI) Memperingati Hari Anti Islamofobia Dunia 2023

Faktual.Net, Jakarta. Islamofobia adalah ketakutan yang tidak masuk akal, tidak logis, tentang Islam. Kesalahpamaham sebagian masyarakat selama ini akan Islam, dapat berakibat fatal. Bahkan kematian.

Di hari Jum’at, 15 Maret 2019, telah syahid 51 orang Muslimiin (termasuk anak kecil), di 2 masjid di kota Christchurch, Selandia Baru. Mereka ditembaki oleh seorang lelaki Australia dengan dibantu 2 kawannya yang hingga kini bahkan tak menyesal akan aksi terorisme biadabnya itu.

Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations), telah menyadari bahaya ini semua. Dan mendukung segala usaha bersama untuk perdamaian dunia.

Melalui Sidang Umum PBB yang dihadiri 193 negara – termasuk Indonesia – telah ditetapkan Resolusi PBB (diajukan Pakistan dan didukung oleh seluruh negara Organisasi Konferensi Islam (OKI)), bernomor GA/12408. Bahwa setiap tanggal 15 Maret selanjutnya diperingati sebagai:

Hari Internasional Untuk Memerangi Islamafobia (Day To Combat Islamofobia).

Parlemen negara Amerika Serikat, bahkan sebelumnya telah menyetujui Rancangan Undang-undang Anti Islamofobia, di Desember 2021.

Masyarakat Indonesia kemudian juga mendirikan GNAI (Gerakan Nasional Anti Islamofobia). Diawali dari musyawaroh para tokoh nasional di rumah musisi Ahmad Dhani Prasetyo (ADP), dan dimoderatori Ustadz Abu Taqi Mayestino (ATM), dengan partisipasi aktif oleh Buya Anwar Abbas, DR. Refly Harun, Abdullah Al Katiri, Habib Muhsin Ahmad Alatthos, Gus A’am Wahhab, dkk. Rekaman videonya telah ditayangkan di Youtube Channel Video Legend, dengan judul “Mengapa Islamophohia Harus Dilawan – Part I”.

Baca Juga :  Operasi Patuh Jaya 2024 Polda Metro Jaya Siap Wujudkan Budaya Tertib Berlalu Lintas.

Kemudian GNAI dideklarasikan resmi di hari Jum’at, 15 Juli 2022, di Aula Buya HAMKA, Masjid Agung Al Azhar, Jakarta. Dengan dihadiri oleh ratusan ulama, tokoh, aktifis nasional.

Kini di tahun 2023, GNAI memperingatinya di 2 kota, dengan musyawaroh akbar, yakni:

(I) di tanggal 15 Maret 2023 di Zabal Nur Surabaya, dan (II) 21 Maret 2023, di ruang Puri Putri Hotel Sahid Jaya Jakarta.

Para peserta musyawaroh di Surabaya, antara lain, adalah: Prof. DR. M. Roem Rowi, Prof. DR. Daniel M. Rosyid, Abdullah Al Katiri, “Ustadz Dayak” M. Damanhuri, Ustadz DR. Agus Hasan Bashori, KH Suyuthi Thoha, DR. Basa Alim Tualeka, Ustadz Choiruddiin, dkk. Dengan dimoderatori oleh Ustadz Abu Taqi Mayestino (ATM).

Para orator di sesi I di Jakarta, antara lain (dari berbagai Ormas, lembaga, yayasan Islam): DR. Abdul Wahid Maktub, Habib Muhsin Ahmad Alatthos, K.H. DR. Muhyiddin Junaedi LC,.MA., DR. Nurhayati Ali Assegaf, M.Si., Buya Risman Mukhtar M.Si., DR. Eli Warti Maliki Lc., MA., KH Muhammad Jaiz M.E., Ustadz DR. Teten Romly Q. Perwakilan masyarakat non muslim Ko Ceng Li (juga menyumbangkan obat suplemen racikannya untuk hadirin), dkk.

Diselingi hiburan lagu nasyiid Islami dari Rikhie Asbo berjudul “Ghuroba”. Dan dengan puncak acara musyawaroh akbar, di Sesi 2, bertema “Bagaimana Cara Menepis Islamofobia”, yang dipimpin oleh Ustadz Abu Taqi Mayestino (ATM) dari GNAI, bersama Ustadz Muhammad Dewa Putu Adhi (Muallaf Center), Ustadz Yusman Al Palimbany (Masjid Lao Tze), Ustadz DR. Elfa Hendri Mukhlis (Da’i Rantau Minang), Ustadz Samsul Arifin Nababan (An Naba Center). Disertai dialog interaktif seru dengan hadirin pula.

Baca Juga :  Kapolri dan Ketum PSSI Bertemu, Pastikan Penyelenggaraan Piala Presiden Berjalan Aman dan Lancar

Secara umum, kesimpulan diskusi di 2 kota ini, adalah masih banyak hal Islamofobis yang memerlukan penyadaran kembali, juga sosialisasi akan nilai-nilai Islami, yang sebenarnya telah lama ada di Pancasila – UUD 1945 juga sejarah serta budaya masyarakat di Nusantara, bahkan di Dunia. Di tengah segala potensi gangguan dan ketidakadilan terhadap kaum Muslimin, khususnya, dalam hal ini, di Indonesia. Para pembicara di Surabaya dan Jakarta juga menunjukkan berbagai teknik dan kiat praktis yang telah mereka lakukan dalam menepis Islamofobia selama ini.

Dan ini semua tentu saja tetap memerlukan kerjasama berbagai pihak, untuk segala tujuan kebaikan guna perdamaian dunia.

Reporter: Lili

Tanggapi Berita Ini